Update 14 May 2012

*Anton’s note: haven’t post for some time, I know, I know, and I’m sorry. Time is what I do not have in abundance, and decent internet connection, and so on and so on, it’s actually will that I do not have. Oh, there is also this one event which resulted in an unwillingness to share, which is also a reason why I feel hard to post. Hope this post will motivate me to post more in the future! ^^

Masih saja kesal melihat layar komputer yang mengatakan bahwa proses pengunduhan “Access 2007 for Dummies” telah terganggu, saya kemudian memalingkan muka ke layar televisi di samping meja belajar saat itu. “Finding Forrester” berada pada penghujungnya dan film itu ditutup dengan sangat baik sekali, dengan sang tokoh utama, Jamal Wallace, bermain bola basket bersama teman-temannya, yang dimulai dengan hanya berdua, kemudian semakin bertambah, dan sampai pada akhirnya hanya Jamal sendiri yang bermain, yang dilakukan di taman bermain beraspal di Bronx yang bisa langsung dilihat dengan jelas dari jendela kamar almarhum William Forrester.
Tentu saja film itu menarik dan saya merekomendasikan anda untuk menontonnya, tetapi saya percaya bukan itu tema utama dari tulisan ini. Permainan Jamal di akhir film itu menghentakkan sesuatu di benak saya, dan saya rasa hal itu tidak memiliki hubungan langsung dengan tema film itu. Saya membayangkan diri saya sebagai teman satu tim dalam permainan itu yang secara kebetulan berada di dekat keranjang bola. Kemudian, teman saya yang memegang bola memberikan operan tinggi kepada saya, tanpa saya duga, karena ada anggota tim lain yang bisa dikatakan lebih meyakinkan dalam mencetak nilai, namun bola itu telah sampai ke tangan saya. Tentu saja, akan sangat menggelikan untuk menghentikan permainan untuk memikirkan hal itu, sehingga saya dengan cepat melemparkan bola itu sebaik yang saya mampu ke arah keranjang untuk mencetak nilai. Tidak ada nilai yang tercetak, keranjang itu tidak tertembus, dan kisah singkat itu berakhir di benak saya saat itu juga.

Perasaan pertama yang menghampiri saya adalah penyesalan, begitu nyata perasaan itu seolah kisah itu bukan sebuah imajinasi belaka. Pertama; Seandainya aku lebih siap untuk saat itu, kemudian; kenapa harus aku?

Sepertinya kisah itu, dan perasaan itu adalah emulasi dari hal yang telah terjadi beberapa bulan lalu, dan sampai hari ini masih meninggalkan bekas yang merusak. Entahlah..

Dan malam masih panjang, sekalipun jam mengatakan sebaliknya…
Ngilu hasil tarik tambang tadi siang masih terasa..
Mungkin malam ini tidak akan tertidur lagi.. entahlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s