Kedewasaan dan Anton

Pada acara kebersamaan lalu, kelas saya menampilkan parodi keadaan kelas. Tentu saja kami juga memerankan guru-guru yang sedang mengajar dengan melebihkan-lebihkan beberapa hal dan memberi bumbu-bumbu yang menimbulkan gelak tawa. Bu Aurum, salah satu guru yang menonton pertunjukan kami, merasa tersinggung, atau setidaknya begitulah kesan yang kami terima. Teman saya yang bernama Marcia nampaknya akan menjadi objek kekesalan guru itu, karena ia yang memerankan guru itu pada pertunjukkan. Meskipun ternyata anggapan kami tidak terbukti pada akhirnya, tetapi pada saat itu saya benar-benar yakin bahwa guru itu sangat tersinggung karena beberapa tindak-tanduknya yang menunjukkan hal itu. “Parodi kami hanya sekedar untuk hiburan semata, tersinggung karena hal itu adalah tindakan yang tidak dewasa. Apalagi dia adalah guru, yang sudah hidup lebih lama dari kami, seharusnya ia menunjukkan kedewasaan sebagai panutan.” Itulah yang ada di benak saya.

Cukup lama setelah kejadian itu, saya menyadari sesuatu. Seorang adik kelas yang pernah membuat saya marah, bahkan sampai hari ini tidak bisa saya maafkan. Saya bertanya-tanya apakah ia melihat saya sama seperti guru yang saya cap tidak dewasa itu? Ya, saya mencap guru itu tidak dewasa, padahal saya sendiri belum bisa menjadi dewasa. Saya tidak berbeda dengan guru itu. Saya tidak patut menuntut kedewasaan dari orang lain sebelum saya sendiri memilikinya.

Kedewasaan adalah kata yang mudah diucapkan, tetapi ternyata tidak mudah diwujudkan. Perlu waktu lama bagi saya untuk menyadarinya.

2 thoughts on “Kedewasaan dan Anton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s