Kata-Kata dari Seorang Guru

Tanggal 19 Desember kemarin, teman saya yang bernama Adicitra Shima berulangtahun. Kami, sebagai teman-temannya dari CNN, datang ke rumahnya untuk memberikan kejutan (tanggal 21). Acara berjalan lancar, meskipun banyak kesalahan terjadi. Dari terlambat dari jadwal karena gerimis, salah alamat, Adi tidak terkejut, sampai salah menghitung umur Adi (salah anton T-T). Haha…memang kalau Anton yang rencanain kagak pernah beres. Nah, dalam acara itu, guru CNN kami (mantan) yang sekarang menjadi guru di DH DM (dia sudah seperti teman sebaya), ikut berbincang-bincang sambil menikmati kue. Beberapa ceritanya:

-Kawanan Kuda

Mr.Hosten (nama guru ini) mengajar beberapa kelas. Di salah satu kelas dengan level tertinggi, ia menemukan bahwa salah seorang muridnya memiliki nilai yang rendah dan memang kurang bisa menerima pelajaran yang diberikan. Jadi apa yang dia lakukan? Dia menurunkan murid itu ke level yang lebih rendah. Tindakan yang kejam sepertinya.

Kemudian ia menjelaskan tentang kawanan kuda yang sedang berlari. Di dalam kawanan kuda, pasti ada kuda yang lebih cepat dan kuda yang lebih lambat. Kuda yang lebih cepat pasti harus menunggu kuda yang lebih lambat untuk mempertahankan kawanan. Jadi, kecepatan lari kawanan kuda = kecepatan lari kuda yang paling lambat. Rumus yang menarik bukan? Maka cara meningkatkan kecepatan lari kawanan adalah menyingkirkan kuda yang lambat sehingga kawanan kuda tidak perlu menunggu mereka. Prinsip yang sama diterapkan pada kelas yang ia ajar. Untuk memastikan kelas melakukan kemajuan sesuai dengan target, maka murid-murid yang menghambat harus dipindahkan dari kelas tersebut. Hal ini adalah yang terbaik bagi kelas dan murid yang menghambat. Mengapa? Karena kelas tidak akan terhambat oleh murid itu, dan murid yang menghambat akan ditempatkan di kelas yang lebih sesuai dengan kemampuannya.

-Kesempatan

Mr. Hosten juga menceritakan bahwa remedial adalah sesuatu yang tidak baik. Sebelumnya, Dian Harapan Daan Mogot memiliki peraturan bahwa siswa berhak mendapatkan remedial tidak terbatas sampai ia lulus. Tetapi kemudian ada sebuah kasus dimana seorang siswa tidak lulus hampir semua mata pelajaran dan setelah terus menerus remedial masih tidak menunjukkan perkembangan. Sejak saat itu peraturan remedial dirubah. Mr. Hosten adalah salah seorang yang menginginkan remedial dihapuskan.

Ia berargumen bahwa remedial membuat murid tidak menghargai kesempatan. Kesempatan hanya datang satu kali dalam kehidupan dan karena itu harus dipergunakan sebaik-baiknya. Ulangan adalah kesempatan itu, dan remedial membuat murid berpikir bahwa masih ada kesempatan kedua. Sebuah perspektif yang akan merusak kehidupan mereka nantinya. Kesempatan kedua tidak muncul semudah itu.

Nilai merah pada raport, adalah rasa malu yang harus tetap tinggal membekas dalam sejarah hidup seseorang. Itu adalah bukti kesalahan yang akan terus diingat oleh seseorang. Remedial akan membuat nilai merah itu menghilang dengan sebuah tes dengan tema yang sama. Padahal, seseorang harus mendapat sebuah teguran yang berat sehingga ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

—————————————————————————————————————————————————————————————-

Jadi, bagaimana menurut anda?

2 thoughts on “Kata-Kata dari Seorang Guru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s