Kebaikan Masih Ada

Michelle

Banyak orang bilang bahwa dunia semakin jahat, manusia semakin jahat, kehidupan semakin jahat. “Jangan percaya orang lain!” bukankah hal itu kadang terdengar seperti sebuah nasehat, dan semakin lama semakin sering terdengar? Orang suka berbohong, teman menusuk teman, saudara memakan saudara, pejabat korupsi dan rakyat menyuap, penipu menipu dan kemudian tertipu, pencurian, pencopetan, perampokan, pembunuhan, et cetera… Demikianlah gambaran kehidupan manusia di zaman ini…atau setidaknya begitulah gambaran kehidupan di luar sana yang Anton dapatkan setelah melihat banyak berita-berita, dan cerita-cerita tidak baik, serta pesan dari Mama: Hati-hati, awas dicopet, awas dihipnotis, awas diculik, awas dibius, dan lain-lain. Dunia terlihat menakutkan untuk dijelajahi. Dan nampaknya kita harus mencurigai semua orang demi kebaikan kita sendiri.

Lalu kenapa Anton mem-post dengan judul seperti ini?

Karena saya telah melihat pesan-pesan yang kebaikan berikan. Sinyal-sinyal lemah yang samar, tetapi dapat dilihat jika kita memperhatikan.

Saat saya berada dalam Transjakarta yang penuh sesak, seorang pemuda berdiri dan memberikan tempat duduknya kepada seorang wanita tua. Aksi kecil dan sederhana, bukan?! Tapi hal itu saya lihat sebagai suatu tindakan yang menunjukkan kebaikan murni, mengorbankan kenyamanan, sekalipun sangat sedikit, dan memberikannya kepada orang lain. Diluar apakah hal itu karena ajaran orangtuanya, malu dilihat orang lain, atau hal-hal yang saya tidak ketahui, yang dia lakukan adalah sebuah kebaikan di mata saya.

Lalu hal lainnya adalah ketika saya melihat seorang polisi lalu lintas mengantar seorang gelandangan kecil menyeberang jalan. Polisi yang sama yang selalu dikutuki, yang gendut karena malas, yang menerima gaji buta, yang identik dengan pemerasan, pungli, suap, mencari-cari kesalahan, dan tilang tidak adil. Polisi yang orangtua saya selalu cap sebagai bajingan. Polisi ini mau repot-repot mengantar seorang anak gelandangan menyeberang jalan. Pemandangan itu sungguh tidak biasa bagi saya, dan mengejutkan juga.

Entah bagaimana saya mengutarakan perasaan saya. Saya tahu bahwa contoh-contoh itu hanyalah contoh yang mungkin hanya sebuah hal kecil, tidak menunjukkan apapun. Tapi justru bagi saya, saya seperti melihat sang kebaikan sedang berteriak-teriak dengan suaranya yang hampir habis: “Ini aku! Aku masih di sini! Aku masih ada!” Ada kebaikan dalam setiap orang, ia tidak akan hilang. Situasi dan kondisi membuatnya tertekan, nafsu dan kejahatan  menutupi dirinya, tetapi ia tetap ada.

Ia bagaikan petualang yang terjebak longsoran tanah, tetapi tetap berjuang untuk bertahan hidup. Berteriak-teriak dengan sekuat tenaga, semakin lama semakin lemah, dengan terus berharap ia akan ditemukan dan dikeluarkan. Ia belum mati, dan teruslah mencarinya.

Janganlah kehilangan harapan akan kebaikan pada hati manusia! ^^

2 thoughts on “Kebaikan Masih Ada

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s