Kaos Kaki Baru

Kira-kira dua bulan yang lalu Mama suruh beli kaos kaki baru. Ya, memang kaos kakiku hampir semuanya sudah bolong-bolong parah, saking parahnya pernah menjadi juara kaos kaki terbolong yang waktu itu diadakan secara tidak resmi di UKRIDA (serius loh! hadiahnya dapet flashdisk 1).

Setelah saya membeli satu pasang, esok harinya saya coba pakai. Mampus deh! Sama sekali tidak nyaman, malah mungkin bisa dibilang tersiksa memakai kaos kaki itu. Kaos kaki SMAK 1 (seperti yang terlihat di gambar) itu luar biasa ketat, terutama di bagian lehernya (atau kepala?), karetnya mencekek kaki. Dari pertama dipakai sudah terasa ketidaknyamanannya dan bahkan setelah saya bertahan untuk terus memakainya, rasa gatal dan sesak semakin  terakumulasi. Sesekali saya lepas kaos kaki terkutuk itu, dan saya bisa melihat ada “bekas cekikan” kaos kaki itu yang begitu sadis dan mengenaskan (pernyataan dilebih-lebihkan).  Hal itu menimbulkan kejengkelan, yang kemudian berganti menjadi amarah. Urgh! Sejak hari itu, saya berusaha sebisa saya untuk tidak memakai kaos kaki itu dan selalu memilih kaos kaki lain (yang meskipun compang-camping tetapi lebih melar dan nyaman), untuk pergi ke sekolah.

Tanpa terasa, sampai hari ini, sudah dua bulan kaos kaki itu saya tinggalkan dalam lemari. Dan tadi pagi saya baru menyadarinya setelah Mama menyuruh saya memakai kaos kaki itu. Saat saya melihatnya, saya teringat lagi rasa tidak nyaman dan kejengkelan yang benda itu timbulkan. Tetapi toh akhirnya saya putuskan untuk pakai juga hari ini.

Saya menemukan sebuah pesan tersendiri pada cerita kehidupan saya ini. Kaos kaki baru yang menjengkelkan itu saya bisa gambarkan sebagai hal-hal baru, perubahan-perubahan, masalah-masalah yang datang. Kaos kaki lama saya (detail mengenai bolong-bolong dan compang campingnya dilupakan saja), saya ibaratkan sebagai zona aman, zona nyaman, hal-hal lama, hal-hal yang saya sudah kenal dengan baik, masalah-masalah yang sudah saya kalahkan. Saya merasa sangat menderita karena kaos kaki baru itu, dan saya membencinya, serta menghindari menghadapi kaos kaki itu. Saya lebih suka terus bersama kaos kaki- kaos kaki lama yang sudah melar karena lebih nyaman, tanpa saya ingat bahwa kaos kaki-kaos kaki itupun dulu juga menyiksa saat masih baru.

Apa gunanya saya menghindari memakai kaos kaki baru itu?  Kaos kaki itu akan tetap ada di lemari dan saya pun harus memakainya juga suatu hari nanti. Justru dengan saya sering memakainya, kaos kaki itu akan bertambah melar dan kemudian menjadi nyaman.

Semoga anda mendapat maksud dari post membingungkan ini! Hehe…

One thought on “Kaos Kaki Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s