BLITZ? (part 1)

aa

Breaking the Limit to Reach the Zenith (BLITZ) adalah tema untuk SMAK 1 Cup 2009. Menurut logika Anton, kalimat ini cukup aneh. Limit itu batas, Zenith itu puncak. Terjemahan kasarnya mungkin ‘menembus batas untuk mencapai puncak’. Nah, kalau sudah melewati batas berarti sudah melewati puncak, dong! Begitulah menurut logika Anton yang merasa tema itu tidak logis. Bingung? Nevermind then.

Saya jadi panitia dalam SMAK 1 Cup kali ini, dalam seksi yang sama dengan Bang Andhika (seorang senior Biologi) tahun lalu: Seksi Lomba Fotografi. Dan sama seperti Bang Andhika, saya pun ditempatkan dibawah koordinasi seorang adik kelas.

Jadi panitia…entah bagaimana mengatakannya…Ketua menghimbau kami untuk memiliki komitmen dan menganggap acara ini seperti acara kami sendiri. Sepanjang acara ini saya tidak merasakan hal itu. Harus saya akui hal itu benar. Saya bekerja bukan karena saya ingin mensukseskan acara ini, tetapi agar teman-teman saya tidak sedih karena acara ini gagal. “Acara ini milik mereka, bukan saya.” Itulah yang selalu berada dalam benak saya.

Memang aneh, tetapi perasaan ini berbeda jauh dengan perasaan saya dulu pada saat SMP, saat saya menjadi Ketua Seksi Dokumentasi Pentas Seni. Saat itu kami semua mengeluarkan uang sampai 60ribu, dan saya tidak merasa sayang. Saya bekerja dengan keras, mengedit video berjam-jam, menyiapkan segala peralatan, membuat surat-surat undangan. Dan bahkan pernah saya sampai bentrok dengan seorang guru karena masalah bahasa dalam surat undangan. “Acara ini harus berhasil!” Itulah pikiran saya saat itu.

Saya selalu dalam pikiran saya mengkritisi, mencela, dan mencari-cari kesalahan dalam BLITZ. Sedangkan dulu saya begitu antusianya dan selalu berpikiran bahwa semuanya sudah dilakukan sebisa kami dalam Pensi.

Mungkin salah satu penyebabnya adalah saya bekerja bersama orang-orang yang namanya saja saya tidak tahu. Atau mungkin hal lain. Entahlah…

Disaat orang lain menulis post mengenai BLITZ dengan menggebu-gebu dan memori bahagia, saya menulis sebuah post yang tidak menyenangkan. Haha..memang Anton aneh.

Advertisements

Sabil and Karon

Prelude

They looked at each others eyes from a distance. Then, without any word spoken, they walked away from each other with a grim face. To opposite sides they went, West and South. One with a pair of black eyes, called Sabil, and the other, with blue eyes called Karon. One day, they would met each other again, eventually. This is not the beginning…this is a little random fragment of unknown chronology.

Kaos Kaki Baru

Kira-kira dua bulan yang lalu Mama suruh beli kaos kaki baru. Ya, memang kaos kakiku hampir semuanya sudah bolong-bolong parah, saking parahnya pernah menjadi juara kaos kaki terbolong yang waktu itu diadakan secara tidak resmi di UKRIDA (serius loh! hadiahnya dapet flashdisk 1).

Setelah saya membeli satu pasang, esok harinya saya coba pakai. Mampus deh! Sama sekali tidak nyaman, malah mungkin bisa dibilang tersiksa memakai kaos kaki itu. Kaos kaki SMAK 1 (seperti yang terlihat di gambar) itu luar biasa ketat, terutama di bagian lehernya (atau kepala?), karetnya mencekek kaki. Dari pertama dipakai sudah terasa ketidaknyamanannya dan bahkan setelah saya bertahan untuk terus memakainya, rasa gatal dan sesak semakin  terakumulasi. Sesekali saya lepas kaos kaki terkutuk itu, dan saya bisa melihat ada “bekas cekikan” kaos kaki itu yang begitu sadis dan mengenaskan (pernyataan dilebih-lebihkan).  Hal itu menimbulkan kejengkelan, yang kemudian berganti menjadi amarah. Urgh! Sejak hari itu, saya berusaha sebisa saya untuk tidak memakai kaos kaki itu dan selalu memilih kaos kaki lain (yang meskipun compang-camping tetapi lebih melar dan nyaman), untuk pergi ke sekolah.

Tanpa terasa, sampai hari ini, sudah dua bulan kaos kaki itu saya tinggalkan dalam lemari. Dan tadi pagi saya baru menyadarinya setelah Mama menyuruh saya memakai kaos kaki itu. Saat saya melihatnya, saya teringat lagi rasa tidak nyaman dan kejengkelan yang benda itu timbulkan. Tetapi toh akhirnya saya putuskan untuk pakai juga hari ini.

Saya menemukan sebuah pesan tersendiri pada cerita kehidupan saya ini. Kaos kaki baru yang menjengkelkan itu saya bisa gambarkan sebagai hal-hal baru, perubahan-perubahan, masalah-masalah yang datang. Kaos kaki lama saya (detail mengenai bolong-bolong dan compang campingnya dilupakan saja), saya ibaratkan sebagai zona aman, zona nyaman, hal-hal lama, hal-hal yang saya sudah kenal dengan baik, masalah-masalah yang sudah saya kalahkan. Saya merasa sangat menderita karena kaos kaki baru itu, dan saya membencinya, serta menghindari menghadapi kaos kaki itu. Saya lebih suka terus bersama kaos kaki- kaos kaki lama yang sudah melar karena lebih nyaman, tanpa saya ingat bahwa kaos kaki-kaos kaki itupun dulu juga menyiksa saat masih baru.

Apa gunanya saya menghindari memakai kaos kaki baru itu?  Kaos kaki itu akan tetap ada di lemari dan saya pun harus memakainya juga suatu hari nanti. Justru dengan saya sering memakainya, kaos kaki itu akan bertambah melar dan kemudian menjadi nyaman.

Semoga anda mendapat maksud dari post membingungkan ini! Hehe…