Masihkah dalam revolusi?

Revolusi, revolusi…merubah sesuatu dengan cepat dan drastis, penggulingan pemerintah oleh yang diperintah…

Ada Revolusi Perancis, Revolusi Industri, Revolusi Hijau, perjuangan kemerdekaanpun adalah revolusi, termasuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dua orang Bapak Proklamator kita, Sang Dwitunggal, ternyata memiliki pendapat berbeda mengenai Revolusi Indonesia, perbedaan pendapat yang kemudian ikut andil memecah mereka.

Soekarno

Sang Panglima Besar Revolusi, Yang Mulia Presiden Republik Indonesia, Ir.Soekarno, berulangkali menegaskan bahwa revolusi Indonesia belum selesai. Revolusi akan tetap berjalan sampai kapanpun.

Bung Karno membagi revolusi dalam 3 tahap:

1. Tahun 1945-1955. Revolusi Fisik. Indonesia memasuki fase merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari kaum Imperialis dengan mengorbankan darah.

2. Tahun 1956-?. Revolusi Nasional. Fase dimana bangsa Indonesia membuang akar-akar kapitalisme dan sisa-sisa Imperialisme, juga membangun dan menggembleng pemerintahan baru, hukum baru, negara baru, untuk mencapai satu masyarakat yang adil dan makmur (tata-tentram-kerta-raharja). Fase ini adalah fase untuk mempersiapkan fase selanjutnya.

3. Tahun ?. Revolusi Sosial. Fase ini baru bisa dimasuki setelah fase sebelumnya dilewati, hal itu bisa berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya. Fase pergerakan untuk mengubah sifat masyarakat Indonesia menjadi sesuai dengan cita-cita kemerdekaan. Masyarakat yang setiap orangnya merdeka secara jiwani.

Bung Karno juga menegaskan bahwa dalam revolusi pastinya ada langkah-langkah yang harus diambil dengan mengesampingkan hukum demi kepentingan rakyat sendiri. Karenanya, revolusi tidak boleh dipimpin oleh ahli hukum yang mementingkan legalitas.

Hatta

Berbeda dengan Soekarno, Bung Hatta selalu mengatakan bahwa revolusi sudah selesai. Revolusi telah berakhir saat penyerahan kedaulatan dalam perundingan KMB. Bagi Hatta, revolusi adalah letupan masyarakat yang melakukan penjungkiran nilai-nilai dan harus berhenti setelah tujuannya tercapai.

Revolusi menggoncangkan lantai dan sendi, pasak dan tiang jadi longgar semuanya. Karena itu revolusi tidak boleh berjalan terlalu lama, hanya beberapa waktu dan kemudian harus dibendung. Sesudah itu datang masa konsolidasi untuk merealisasikan cita-cita revolusi.

Jadi, yang belum selesai bukanlah revolusi, tetapi usaha untuk mengisi kemerdekaan setelah revolusi. Bung Hatta berpendapat bahwa revolusi yang tidak dibendung tepat waktu menyebabkan anarkisme, pemberontakan, kudeta, dan kekacauan politik maupun ekonomi. Apabila revolusi tidak dibendung pada waktunya, pasak dan tiang yang longgar tadi berantakan dan meruntuhkan bangunan. Sementara itu pihak-pihak oportunis masuk dan mengambil keuntungan dari situ. Dan diantara merdeka dan anarki tidak jelas lagi bedanya.

Karena itu, Bung Hatta menegaskan bahwa “revolusi sudah selesai”. Sekarang saatnya kita mengisi kemerdekaan, revolusi sudah selesai.

Bung Hatta juga berpendapat bahwa hukum tidak boleh dilanggar. Contohnya pada saat Soekarno memutuskan untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di Indonesia tanpa mengganti rugi untuk membangun negara, Hatta tidak setuju. Hatta berpendapat bahwa Indonesia harus membayar ganti rugi, karena kita bukanlah bangsa perampok, tetapi bangsa yang merdeka.

Bagaimana menurut anda? Masihkah bangsa Indonesia berada dalam revolusi memperebutkan kemerdekaan? Atau revolusi sudah selesai dan kita sekarang sedang mengisi kemerdekaan?

You’ve got a friend in me

You’ve Got A Friend in Me

-by: Randy Newman & Lyle Lovett

ost. Toy Story

You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
When the road looks rough ahead
And you’re miles and miles
From your nice warm bed
Just remember what your old pal said
Boy, you’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
You’ve got troubles, well I’ve got ’em too
There isn’t anything I wouldn’t do for you
We stick together and we see it through
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me

Some other folks might be
A little bit smarter than I am
Bigger and stronger too
Maybe
But none of them will ever love you the way I do
It’s me and you
And as the years go by
Boys, our friendship will never die
You’re gonna see
It’s our destiny
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me

Is There Any Problem with Thought?

Well, my teacher, a man called HD, once ridiculed me with nickname “theoretical-man”. And some people actually laughed at that nickname.

I wonder what ridiculous from that word.

Is it a problem for people, that I make some set of theory as the base of my ideas? I used my thought to comprehend the world I’m living in and seeking knowledge to solve all those problems in my life.

“I think, therefore I exist”, RenĂ© Descartes once said. It is only one simple sentence but yet so deep in meaning. That simple sentence is the foundation, a sole ground of further construction in a more complicated set of theories. Archimedes used to demand just one firm and immovable point in order to shift the entire earth; so if you manage to find just one thing, however slight, that is certain and unshakable, you can do what others can’t.

Many great actions and knowledge come from ideas. But probably my problem is that all ideas I have, stop there as ideas. And sometimes I have problem with putting my ideas across, leading to misunderstanding and confusion (even sometimes I confused myself). -_-” You don’t understand this post, do you?

Strategi Fabian

Istilah Strategi Fabian berasal dari nama Quintus Fabius Maximus Verrucosus. Satu hal yang unik dari strategi ini adalah strategi ini tidak pernah populer, bahkan dicela, saat strategi ini dijalankan, tetapi dipuji di kemudian hari.

Ceritanya seperti ini:

Suatu hari, pada masa lalu, negeri Romawi yang sedang melakukan ekspansi, terlibat perang melawan bangsa Chartago (apakah ini terjemahan yang benar dari Chartage?).

Kemudian…seorang jendral perang hebat Chartago bernama Hannibal menyerang Romawi…di tanah Romawi sendiri! Melalui pegunungan Alpen ia datang bersama pasukannya dan Italia diporakporandakan! Kemanapun ia pergi ia menang! Bersama pasukannya yang bisa dibilang cukup kecil, ia mengalahkan balatentara Romawi yang jumlahnya berkali-kali lipat lebih besar.

Romawi tenggelam dalam teror! Tanah airnya sendiri dimasuki oleh musuh yang tidak bisa diusir!

Kemudian muncullah seorang jendral bernama Fabius. Ia dipercaya untuk memimpin pasukan Romawi untuk mengalahkan Hannibal. Ia kemudian akan disebut Sang Penunda (The Delayer) bukan tanpa alasan.

Romawi telah mencoba menghajar pasukan Hannibal dalam perang-perang skala besar dan Romawi selalu kalah. Hannibal terlampau jenius untuk dikalahkan dalam pertarungan. Fabius mengakui hal itu dan belajar dari kesalahan Romawi. Satu-satunya cara untuk mengalahkan Hannibal adalah…dengan sama sekali tidak menghadapinya dalam peperangan.

Peperangan, atau pertempuran, adalah permainan yang akan selalu Hannibal menangkan. Jadi, mainkan permainan lain!

Fabius menerapkan strategi dimana pasukan Romawi diperintahkan untuk menghindari pasukan musuh sebisa mungkin. Hal ini membuat tidak akan ada pertempuran yang terjadi, Hannibal tidak kalah, tapi juga tidak akan menang. Sambil terus mengirimkan pasukan sejumlah kecil untuk menyerang kelompok pencari makanan Hannibal, pasukan Chartago dibuat kelaparan dan kerepotan. Strategi ini berjalan dengan baik, kekuatan Romawi perlahan-lahan pulih sementara musuhnya melemah.

Tapi strategi ini tidak disukai senat dan rakyat Romawi. Mereka memanggil Fabius pengecut dan mencopotnya dari jabatan. Kemudian dikumpulkanlah balatentara Romawi, 90.000 prajurit yang terdiri dari 8 legiun dan sekutu-sekutu, semuanya dipimpin oleh 2 konsul dan dikirim untuk mengusir Hannibal. Terjadilah pertempuran di Cannae melawan pasukan Chartago yang berjumlah 40.000 orang. Dan pasukan Romawi dihancurkan dengan memalukan.

Perlu kekalahan yang hebat dan memalukan untuk membuat Romawi mengerti bahwa hanya cara Fabius yang bisa digunakan untuk mengalahkan Hannibal. Fabius kemudian dikembalikan ke jabatannya. Orang yang dilecehkan itu sekarang dianggap sebijaksana dewa. Strategi itu terus dijalankan sampai akhirnya Hannibal dipaksa keluar dari Itali, dan kemudian kerajaan Chartago seluruhnya dibinasakan.

Strategi Fabian, strategi yang penuh kesabaran dan penantian, menggunakan waktu untuk membuat masalah memudar dan bahkan hilang sama sekali. Strategi yang terlihat lamban, malas, seperti pengecut, tetapi kemudian membawa kemenangan besar.

Apakah anda ingin mencoba juga Strategi Fabian untuk memecahkan masalah anda?

Pertanyaan

Suatu hari, dalam perjalanan pulang menggunakan mobil teman saya, saya menanyakan sebuah pertanyaan kecil kepada teman saya, namanya Trisha. Pertanyaan itu intinya seperti ini: Jika kamu mendapatkan pilihan untuk lahir dan dibesarkan di sebuah panti asuhan, dimana kamu mendapat fasilitas yang sangat baik, semua kebutuhan terpenuhi, pendidikan yang terbaik, dan masa depanmu pokoknya terjamin, apakah kamu lebih memilih di sana, atau tetap memilih orangtuamu?

Teman saya itu berpikir sebentar, kemudian menjawab bahwa jika memang lebih baik di tempat itu, ia akan memilih untuk berada di tempat itu.

Saya memiliki pendapat lain dan tidak setuju atas jawabannya. Tetapi di saat yang sama, saya tidak dapat mengatakan bahwa jawabannya salah.

Nah, sebenarnya maksud dari post ini adalah untuk membuat anda berpikir jawaban apa yang akan anda berikan. Jadi, apakah jawaban anda jika saya menanyakan pertanyaaan yang sama?