Alexa’s new video clip!

You have to watch it!

Hahaha…I love this video clip!

It’s about a beautiful girl stalked by stupid morons (joke).

It’s funny. Especially their face when they stalked. lol lol lol

Advertisements

Ohhh….

Saya berkunjung ke Yogyakarta selama sekitar 4 hari. Wow, kota yang indah dan penuh kebudayaan. Saya akan mem-post cerita perjalanan saya, tetapi bukan di post yang ini.

Sebelum menulis post tentang Yogya, saya menyempatkan diri saya untuk mereview post-post saya yang lalu.

Kemudian saya sadari. Post-post saya akhir-akhir ini berisi hal-hal yang “menye-menye”, over emotional, caper, dan menyebalkan untuk dibaca.

Saya rasa waktu saya menulis hal-hal ini saya mungkin sedang dalam emosi yang negatif. Sorry yaaaa, para pembaca!

Saya akan coba mempost hal-hal yang positif, karena saya tahu lebih baik memberikan dunia hal-hal yang positif daripada hal-hal negatif!

(Meskipun kadang saya juga perlu curhat sebanci-bancinya, hehe…blog ini kan tempat curhat juga)

Ayo, baca blog Anton!

(enggak juga gapapa sih hoho…)

Tips mengurangi ketidaksukaan terhadap seseorang

Anda pasti pernah merasa tidak suka, atau dalam bentuk yang lebih besar: benci, terhadap seseorang. Orang yang kadang mau tidak mau pasti mengambil tempat dalam hidup atau karir anda. Melihatnya membuat muak, mendengar suaranya membuat kesal, semua yang ia lakukan pasti salah.

Anda selalu ingin menghilangkan orang-orang ini dari dunia anda, tetapi tidak bisa. Jadi, mengapa tidak berdamai?

Nah, berikut ini beberapa tips untuk mengurangi ketidaksukaan anda atau menyukai seseorang lebih baik lagi:

1. Sering Bertemu.

Ya, mungkin terasa sulit. Anda pasti ingin menghindari orang yang anda tidak sukai, bahkan melihat mukanya saja anda sudah muak. Tetapi menurut ilmu psikologi: semakin sering anda bertemu seseorang, semakin mudah kita menyukai orang tersebut. Nah, mulailah temui orang yang anda tidak sukai! (Dan mungkin siapkan beberapa kantong muntah)

2. Berikan sentuhan kecil (sentuhan yang tidak memberikan kesakitan seperti pukulan, cubitan, etc you know lah).

Percaya tidak percaya, sentuhan sekecil apapun yang bahkan tidak dirasakan oleh orang yang disentuh sekalipun, membuat orang yang disentuh dan menyentuh memiliki hubungan yang lebih positif karena adanya reaksi kimia dalam tubuh akibat sentuhan.

3. Tertawa.

Saat ia berkata atau melakukan sesuatu yang membuat anda merasa tidak enak, tersinggung, eneg, gondok, cobalah untuk mentertawakan hal itu. Ya, tertawa. Memang sangat sulit pastinya.

4. Bersikaplah ramah.

Kita pikir “we act because of the way we feel” tetapi sesungguhnya adalah “we feel because of the way we act”. Jadi dengan anda bersikap ramah (meskipun terpaksa dan membuat geram) anda sebenarnya sedang membiasakan diri menyukai orang tersebut lebih baik lagi. Cara ini adalah cara yang paling efektif.

5. Tahan kata-kata kritik. Jangan keluarkan.

Saat anda mengeluarkan komplain, kata-kata ini akan tinggal selamanya di dalam kepala anda dan membuat anda mengingatnya setiap bertemu orang itu. Tetapi saat komplain anda tersimpan tanpa dikeluarkan, komplain anda lebih mudah berubah dan hilang.

6. Ingatlah pengalaman baik anda dengan orang itu.

Saat-saat baik selalu bisa memperbaiki mood, mengalahkan pandangan-pandangan negatif dan memadamkan amarah.

7. Mencari alasan untuk berterima kasih.

Mencari-cari alasan untuk berterima kasih, daripada alasan untuk marah atau tersinggung, akan mengubah pandangan anda terhadap orang tersebut dengan cepat.

Demikian 7 tips untuk mengurangi ketidaksukaan terhadap seseorang.

Memang berat untuk dilakukan. Tetapi hasil yang anda dapatkan jika berhasil pun pastinya memuaskan!


Diterjemahkan dan digonta-ganti dari: link

2 Juni 2009

There’s something about blue
Asked myself what it’s all for
You know the funny thing about it
I couldn’t answer
No I couldn’t answer

Blue (by: the Seatbelts)—

Author’s note: Saya bersyukur bahwa “dunia tulisan” saya satu ini (baca: wordpress) tidak banyak diketahui oleh orang-orang yang saya kenal, sehingga saya merasa aman menulis hal-hal yang saya rasakan dan benar-benar ingin saya ungkapkan tanpa menyinggung orang-orang dalam tulisan-tulisan saya. Adi, Gabriel dan Timothy cukup dewasa untuk mengerti dan memaklumi tulisan-tulisan saya. Miss Mosyi, Om Yellow, dan Melia tidak mengenal orang-orang dalam hidup si Anton. Yak! Artinya tidak ada “pembocor rahasia” yang berarti. ^_^

Hari ini ulangan umum selesai.

Selain menjadi akhir dari perjuangan berat selama seminggu, hari ini juga menjadi tanda berakhirnya masa kelas 2 SMA. Sebelas sosial satu, kelas yang telah kami pakai selama satu tahun, tidak, lebih dari itu, sebuah komunitas kecil yang terikat oleh hubungan karena waktu dan tempat. Manusia-manusia yang dipaksa masuk dalam sebuah ruangan yang sama dan harus bertatap muka selama satu tahun penuh sehingga saling menjalin hubungan.

Senang, sedih, marah, bangga, dan perasaan-perasaan lain, mungkin bahkan semua perasaan (dengan ketertarikan seksual sebagai pengecualian) sudah saya cicipi selama satu tahun ini. Teman-teman, orang-orang yang saya rasa saya kenal setelah satu tahun bersama, baik mungkin hanya sekedar sebagai nama, atau sebagai pribadi, saya tidak akan melupakan mereka. Saya rasa saya kenal, karena saya tahu bahwa saya tidak pernah masuk ke dalam hidup mereka. Saya rasa saya adalah teman mereka, dan saya rasa hal itu sudah cukup. Saya tidak berpikir itu adalah sebuah keharusan mereka menganggap saya sebagai salah satu teman mereka.

Hmmm… Begitu lama waktu yang telah saya habiskan bersama mereka, begitu banyak hal yang telah dilewati bersama, begitu banyak masalah yang telah dihadapi. Seharusnya saya merasakan suatu perasaan yang dinamakan rindu, kangen, ingin bertemu, sedih berpisah, dan semacamnya, tetapi nyatanya, anehnya, tidak ada perasaan semacam itu. Memang terhadap beberapa orang saya merasakannya, tetapi secara menyeluruh, tidak.

Mengapa saya merasakan hal itu? Pertanyaan yang bagus, pertanyaan yang sulit. Bahkan harus saya katakan, saya tidak dapat menjawabnya. Sejauh ini setelah saya berpikir, ada 2 pendapat yang diutarakan dalam kepala seorang anak SMA ini.

Pendapat pertama adalah bahwa sebenarnya perpisahan ini bukanlah sesuatu peristiwa yang besar dalam hubungan kami. Saya sudah menganggap mereka seperti saudara dekat, sekalipun jauh di mata tetap dekat di hati. Sekalipun berbeda kelas hubungan kami tidak akan merenggang sedikitpun. Ya, karena itu saya tidak merasa kehilangan.

Pendapat kedua adalah bahwa saya memang tidak perduli tentang mereka. Status mereka dalam kepala saya hanyalah orang-orang yang saya ketahui namanya dan bertemu setiap hari, tidak lebih dan malah mungkin kurang. Saya tidak perduli apakah saya akan atau tidak akan bertemu mereka lagi. Saya tidak pernah masuk dalam kehidupan pribadi mereka dan merekapun tidak pernah masuk dalam kehidupan pribadi saya. Tidak ada “kedekatan” apapun yang membuat saya akan merindukan mereka.

Salah satu diantara pendapat itu adalah yang benar. Tetapi seperti yang saya katakan tadi, saya tidak tahu.

Kemudian, poin selanjutnya yang ingin saya utarakan, adalah sebuah realita yang harus diakui bahwa XIS-1 bukanlah “satu kelas”. Bukan mengenai gagalnya kasus konspirasi klasikal pelajaran TIK, bukan itu. XIS-1 terpecah belah, setiap orang berkumpul dalam “kelompok”-nya tersendiri, yang masing-masing mengurus urusan mereka sendiri, bergerak bukan sebagai satu kesatuan. Ada kelompok yang didasarkan pada kelas X yang lalu, tempat tinggal, asal SMP, tempat les, dan lain-lain. Dibandingkan kelas X-1 yang menjadi kelas saya setahun kemarin, XIS-1 bahkan tidak cukup kompak untuk mengatur sebuah “perjamuan terakhir” (makan-makan sebelum berpisah), atau sampai sejauh ini belum. Anggota suatu kelompok tidak terlalu perduli terhadap anggota kelompok lain, bahkan bertegur sapa sekalipun ada kalanya tidak dilakukan. Begitu dekat jarak diantara kami, tetapi begitu renggangnya hubungan kami. Saya tidak menyukai hal itu, tetapi saya tidak bisa memungkiri bahwa inilah yang selama ini saya rasakan. Saya menjadi “biru” saat merenungkan hal ini.

Tulisan saya ini selayaknya berakhir di sini saja sebelum menyiksa para pembaca lebih jauh lagi. Tulisan ini sudah terlalu panjang dan semakin lama semakin tidak terarah, membuat bingung dan malas orang yang membaca. Apa boleh buat, ini adalah ungkapan perasaan saya, dan saya tidak cukup ahli mengutarakan isi hati saya.

Goodbye XIS-1 2008-2009! Farewell my friends!