Tanya oh tanya…

Hari ini saya berbicara dengan seorang guru berinisial YH, dia adalah guru PAK di SMAK 1. Dia meminta pendapat mengenai film yang kelas saya saksikan pertemuan yang lalu yang dia putar lewat proyektor. Film itu adalah film dokumenter mengenai perkembangan IPTEK yang memungkinkan manusia membuat organ buatan bahkan sampai tahap yang melebihi manusia alami suatu saat nanti. Dan dia minta pendapat kami mengenai film itu (dan karena ini adalah pelajaran PAK, jawaban kami harus disangkutkan dengan bagaimana kami pikir pendapat Tuhan mengenai hal itu).

Saya sebenarnya tidak tertarik untuk mengeluarkan pendapat apapun, tetapi entah mengapa saya memutuskan untuk bertanya juga.

“Bu, definisi manusia itu apa?” Itulah pertanyaan saya.

Akhirnya dia ngomong begini dan begitu, lalu saya  jawab lagi begitu dan begini, dan ada teman saya yang ikut berkata begini dan begitu. (Seingat saya dan setangkap daya cerna otak saya) Intinya, guru itu awalnya bilang bahwa manusia itu adalah makhluk ciptaan Tuhan. Saya tanya lagi demi mendapatkan deskripsi lebih dalam,”Cuma itu?”. Diapun memperdalam deskripsinya dengan memasukkan bahwa apa yang Tuhan ciptakan (lahir alami sebagai manusia) sepenuhnya (segala bagian masih sama seperti sejak lahir) adalah manusia. Saya terus menyerang menuntut penjelasan yang lebih dalam di bagian itu. Saya berikan dia contoh bagaimana jika ada orang yang hanya bagian otaknya saja yang merupakan manusia, sedangkan yang lain telah dirubah menjadi robot. Dari apa yang saya tangkap, ia kemudian menjawab bahwa orang tersebut bukanlah manusia. Saya kemudian simpulkan pendapat si guru itu menjadi: semua orang yang tubuhnya bukan berasal dari saat dia lahir, bukanlah manusia. Dia lalu menjawab kesimpulan saya itu dengan…er…mengarah ke arah dia lebih prefer sesuatu yang natural (jawabanya tidak mengarah dengan jelas). Lalu teman saya mengatakan ia lebih menitik beratkan pada perasaan dan emosi itu sendiri yang membuat manusia menjadi manusia, dan robot sekalipun bisa disebut manusia selama ia memiliki perasaan. Lalu begitu dan begini dan berlanjut lagi, kemudian guru saya menceritakan sebuah cerita robot yang ingin menjadi manusia (film “Bicentennial Man“). Ok, lalu bel berbunyi dan belum ada konklusi atau statement yang berhasil keluar dari kabut kebingungan, semuanya masih melayang-layang tanpa ada argumen yang cukup kuat atau meyakinkan. Bahkan guru saya sempat mengatakan bahwa semuanya itu relatif dan berbeda-beda jika dilihat dari sudut pandang orang yang berbeda pula.

Banyak orang akan berkata bahwa pertanyaan macam itu tidak penting dan hanya membuang waktu percuma. Tapi, tidak! Justru hal ini sangat penting. Hal ini termasuk sebuah dasar, dan dasar adalah sesuatu yang menopang segala hal di atasnya. Archimedes meminta hanya satu titik yang tetap dan tidak tergerakkan sebagai dasar untuk menggeser seluruh bumi. Hanya satu titik sudah cukup! René Descartes pun berpikir sedemikian lama dan sulit hanya untuk memikirkan satu teori penting, teori yang tidak rumit dan panjang, tetapi menjadi dasar dari berbagai rasionalisme modern. Teori itu adalah sebuah kalimat sederhana: “Cogito, ergo sumSaya berpikir, karena itu saya ada. Konsep sederhana, bahwa keberadaan kamu bisa dibuktikan dengan kamu memikirkan tentang keberadaan kamu sendiri. Karena setidaknya harus ada subjek yang melakukan aksi, dan subjek itu adalah “aku” (dalam hal ini adalah anda). Dari contoh ini anda bisa melihat seberapa pentingnya sebuah dasar tanpa memperhatikan seberapa rumit atau sederhananya dasar tersebut.

Mari kita kembali ke topik kita. Seberapa pentingkah definisi manusia itu? Pertama, jika dalam standar moral kita diharapkan untuk menolong sesama kita, siapakah sesama kita? Manusia tentu saja. Tetapi jika anda tidak mendefinisikan apa itu manusia, apa yang akan anda tolong? Kedua, mari kita lihat dari segi hukum. Tentu saja hukum yang berlaku bagi manusia dan…katakan saja…hewan, berbeda bukan?! Apakah hewan bisa disebut kriminal jika ia mencuri atau membunuh? Lalu bagaimana cara kita membedakan manusia dan hewan? Tanpa definisi yang jelas, bisa saja suatu hari nanti seorang penjahat mengaku bahwa dirinya adalah hewan bukan? Ketiga,  yang lucu tetapi cukup penting, anda tahu apartemen yang melarang hewan masuk? Haha..lalu bagaimana jika tidak ada definisi manusia yang baku? Bisa saja anda dilarang masuk karena anda dianggap hewan. Hal-hal itu hanyalah beberapa contoh kecil dari berbagai contoh lain di dunia.

Jadi, mulailah berpikir mengenai definisi manusia. Sebuah dasar untuk meyakinkan diri anda bahwa anda adalah manusia. Cobalah anda berandai-andai bahwa suatu hari nanti ilmu biologi bisa merekayasa genetik hewan menjadi makhluk dengan kepandaian dan ciri lain menyerupai manusia, atau ilmuwan berhasil melakukan kloning terhadap manusia, atau bahkan akan ada robot yang memiliki emosi dan kreatifitas seperti manusia. Apakah anda sama dengan mereka? Apakah anda berbeda? Di mana letak perbedaannya? Bagaimana jika anda menjadi setengah robot?

Apakah anda manusia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s