Tersenyumlah!

Image009

Di Sidoardjo, lumpur belum berhenti menyembur…

Hutan terbakar, tokopun dibakar…

Krisis global melanda…

Orang-orang dipecat…

Kemiskinan bisa dilihat di mana-mana…

Pesawat-pesawat masih saja berjatuhan dari langit…

Bencana alam melanda berbagai daerah…

Masalah sepertinya dengan beramai-ramai datang mengunjungi Indonesia.

Ada jutaan alasan tepat yang pantas untuk membuat kita bermuram durdja dan mengeluh. Bangsa Indonesia pantas untuk “ngedumel”. Tetapi coba tebak apa yang saya temukan kemarin di internet (lihat sini).

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, yang telah melalui berbagai permasalahan dan telah melihat penderitaan lainnya di masa depan, mereka adalah manusia-manusia terhebat di dunia! Bangsa Indonesia telah melalui berbagai musibah dan bangsa Indonesia tetap tersenyum.

Saya tidak perduli jika orang di luar sana beranggapan Indonesia adalah negara sarang teroris, negara miskin, ataupun negara “payah”. Saya bangga menjadi bagian dari bangsa ini, karena saya tahu masalah yang kami hadapi, seberapa besar dan seberapa menyedihkannya, dan lihatlah: Indonesia adalah negara paling murah senyum di dunia.

Karena itu pembacaku yang tersayang, tersenyumlah! Jadikanlah bangsa Indonesia sebagai contoh. Tersenyumlah, tersenyumlah, dan tersenyumlah! Biar tahun depan kita menang lagi hehehe… ^_^

Two thumbs up and standing ovation for Indonesia people.

Hihihi…

Hari ini Lau Tio (setara dengan paman) datang berkunjung.

Ia memberi cerita yang cukup lucu. Begini ceritanya:

Apa bedanya pegawai sama bos waktu dikasih kalender tahun baru?

Kalau pegawai, cepet-cepet dia itungin tanggal merahnya. Trus bilang ” Yah, dikit banget hari liburnya!”

Waktu bos dapet kalender, dia juga itung tanggal merahnya. Trus bilang “Yah, banyak banget tanggal merahnya! Rugi nih gw!”

Hehehe…mungkin buat kalian, para pembacaku yang kusayangi, ceritanya biasa aja. Tapi entah kenapa aku merasa geli ketika mendengar cerita ini. Ironi, menertawakan diri sendiri. Hahaha…

Sahabat…

Hehe.. ada orang yang bikin lagu tentang sahabat.

Kita bernyanyi untuk sahabat♫…

Arti sahabat ooo…

Persahabatan bagai kepompong…

Hehehe…cukup deh dengerin Anton nyanyi, kalo kelamaan kan musti bayar (hoeeek hoeeek hoeeek).

Nah kebetulan tema ini nyantol di kepala gw tiba-tiba dan gw juga keinget satu strip kartun di koran kompas “Benny and Mice” yang edisi entah kapan. Begini ceritanya (tanpa gambar dan cuma seinget Anton):

Mice: Ben, liat nih friend gw di Facebook udah 50!

Benny: Ah, lu kan ga pernah ketemu juga.

[Esok hari]

Mice: Yes, friend gw bertambah lagi! Cihuy!

[Sebulan kemudian]

Mice: Wooohooo! Friend gw udah 100!

[Tidak lama]

Mice: Ben, pinjem duit dong! Mau bayar tagihan internet. Abis duit gw.

Ben: Beh, pinjem aja sono sama friend lu di Facebook!

Moral of the story: Meskipun kamu punya ribuan teman di dunia, hanya ada satu atau segelintir saja orang yang bisa menjadi tempat pinjem duit andalan sahabat.

To wait…

Today, at a cool and comfortable atmosphere of Jakarta, which is quite unusual these days, a celebration was held by my team for the victory we earned. Well, we got 400K and it was kind of too much for us to save… speaking of lavish lifestyle. The budget was 350K, since 50K had been stolen already by our “beloved” team member named Josiah.

The team consisted of 5 persons (Alex, me, Christian, Vincent, and William, Josiah will never be counted) plus 3 persons “friends of the team” (Kevin, Wisnu, and Yusuf).  Everybody got on time except for me and Wisnu, we were late, but were not late enough to get people annoyed. Then we marched to “Red Tomato”, a Pizza restaurant located at the 2nd floor of  Taman Anggrek mall. Hmm…the 50% discount was unquestionably tempting.

We ordered a regular tuna pizza, a family-size salami pizza, two lasagnas, and a family-size New York style pizza with Hawaian topping and golden sweet potato crust. The last pizza we ordered was the most expensive of all, and the most wanted too.

Lasagnas came earlier, then tuna and salami were on the table in a short time. The lasagnas were OK, but the two pizzas… they were expensive and apparently not satisfactory. The pictures on the menu surely fooled me.

It took only some minutes for us to clean the plates, but we weren’t done yet. THE HAWAIAN was LATE! We wait, wait, wait, and wait. We reminded stewards over and over again. Our temper was getting shorter and shorter. We ordered another tuna pizza to help us “wait”. It didn’t work. The steward told us that the oven was dead unexpectedly. What can we say?

We wait and wait. Some of us were irritated already. THE HAWAIAN was still NOT ON THE TABLE!!! Okay, that’s it! We were going to cancel it.

And, walah! The steward brought it. I guessed that was the time we realized this pizza was the best. I bit the pizza, and I must say. . . it’s perfect. Crispy on the outside, soft and chewy on the inside, and the crust was. . .GREAT! It was more than what we had expected.

I guessed it worth our waiting.

We waited and we got impatient.

If we knew that we were waiting for something so dear, we would have been joyfully wait for it. We didn’t, and I believe it made the pizza tasted even more delicious. And I’m surely going back to “Red Tomato” for that pizza.

The moral of the story:

Be patient and wait. ‘Cause our time that we had spent to wait would makes anything we wait for becomes dearer. Wait in revel!

Finnish Moment

Finlandia mungkin bukanlah sebuah negara yang mencuat di dunia. Bukan negara dengan pengaruh kuat, suara yang vokal, atau ekonomi raksasa. Kota-kotanya pun sederhana, kita ambil contoh Helsinki, modern, tetapi tetap “rendah hati”. Hampir tidak ada mobil-mobil yang “wah!” berlalu-lalang di jalan-jalan. Rumah-rumah penduduk memiliki bentuk yang tidak jauh berbeda, ukuran rata-rata, warna yang sama, dan tidak ada yang benar-benar menarik perhatian. Bila dibandingkan dengan New York atau kota-kota besar di Amerika, tentu Helsinki bisa dibilang “kurang modern”. Kemewahan sangat sulit ditemukan di Finlandia.

Kota-kota itu seperti menggambarkan pribadi orang-orang Finlandia: sederhana. Dan cobalah lihat apa kegiatan orang Finlandia dalam liburan musim panas. Mereka berlibur selama 5 minggu ke pondok di hutan. Apa yang mereka lakukan? Bisa dibilang yang utama adalah: tidak melakukan apapun. Mereka bersantai, dan mereka memaknainya secara harfiah.

Bagi orang Finlandia, yang paling berharga bukanlah uang, barang-barang berharga, kemewahan, ataupun prestige. Bagi mereka yang paling berharga adalah menikmati waktu dan kesunyian.

Finnish Moment, menikmati waktu sepenuhnya tanpa diganggu oleh hal-hal materiil yang tidak berarti. Bukankah ini yang kita perlukan di tengah dunia yang sedang roboh ditelan kerakusan akan harta?

Nikmatilah waktu anda. Karena hidup bagaikan uap, yang sebentar saja kelihatan kemudian lenyap. Apakah uang dan materi bisa menggantikan hal itu? Give yourself a pause for your own Finnish Moment.

Beberapa hal yang gw sadari…

-Bu Duma ternyata ga sejahat yang gw kira.

-Bu KM ternyata ga sejahat yang orang bilang.

-Satu hal yang gw sangat suka dari cowok: mereka cepat marah dan cepat melupakan.

-Akhir-akhir ini gw jarang senyum. Hmmm..mungkin lagi banyak pikiran.

-Kelemahan gw yang paling utama dalam hubungan antar manusia adalah gw sangat jarang menyapa teman gw yang gw temui. Haha.. sebenernya itu karena gw takut mereka ga nyapa balik.

-Lampu kecil yang gw bawa hari ini buat pencahayaan fotografi, yang setelah dipasang di kelas X dan mengeluarkan percikan api, adalah penyebab mati lampu selama 30 menit di lantai 2.

-Kelas XI yang gw diami sekarang tidak cukup solid. Kelas ini tersegmentasi dengan kuat dan sulit dijadikan satu. Gw bahkan ga yakin kalo ada makan-makan perpisahan akan dihadiri cukup banyak anggota sebanyak dulu waktu di X-1.

-Ada orang yang menjadi “the only person left alone in the crowd” bukan karena dia anti-social, tapi cuman gara-gara teman-temannya punya teman-teman lain yang lebih penting. Kasian banget liatnya.

-Persahabatan bisa longgar karena waktu dan jarak. Orang yang bilang hal sebaliknya hanya tidak ingin mengakuinya.

-Lucu juga liat cewek-cewek kalo lagi marahan.

Ada Bom di SMAK 1?!

Bagi orangtua-orangtua yang menyayangi anak-anaknya berpikirlah dua kali sebelum memasukkan anakmu ke zona perang SMAK 1.

Di hari Senin ini (4 Mei 2009), sebuah bom telah diledakkan teroris di kelas 11 Sos 1.

Duaaar!!! Dan pecahan-pecahan tubuhpun bergelimpangan bersama hujan darah yang membasahi ruangan. Kaca-kaca pecah berkeping-keping dan meja-meja terlempar. Puluhan korban tewas seketika. Sampai sekarang SMAK 1 masih menutupi kejadian ini.

Hehehe…bercanda, ding!

Tapi masalah bom itu beneran, loh!

Ada sebuah hydrogen bomb (baca: bom air+dry ice) yang meledak di kelas 11 Sos 1. Suaranya keras sekali, bahkan sampai membuat telinga pekak beberapa detik (persis granat di CS lol).

Versi cerita yang dimiliki beberapa orang di luar sana terutama guru-guru itu misleading. Yang mengetahui versi asli persis lengkap hanya pelaku-pelaku dan saksi mata yang posisinya dekat.

Akhirnya 7 tersangka dipanggil (termasuk gw) sama guru-guru BK ke ruang BK. Apa yang terjadi di sana masih classified dan gw ga bs ceritain (ceileh, kayak apa aja…hohoho). Kemudian ditentukan bahwa 3 orang (2orang dari kelas gw, 1 orang dari 11 IPA) harus dihukum. Hmmm…menurut gw sih harusnya Nullum crimen, nulla poena sine praevia lege poenali (“No crime, no punishment without a previous penal law”) karena di KUH SMAK 1 gw rasa ga pernah tertulis dilarang mengadakan experiment sains di kelas, jadi harusnya tidak ada yang boleh dihukum.

Hahaha… benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan selama masa SMA! Paling bego, paling nekat, paling sinting!

If you follow all the rules…you miss all the fun! ^_^