Kronik Pesta Pytia (fragmen 3)

Saat lagi asyik nyanyi cuma berdua sama Vincent, si 6120c berdering.

Ada sms yang masuk dari Pytia, “Ton, mau nonton Benjamin Button atau Underworld?(…)Yang nonton Underworld cuma Enmiriya.”

Ini salah!

Apa boleh seperti ini? Hanya gara-gara berbeda selera, pergi masing-masing? Dan Benjamin Button itu waktu tayangnya lebih lama. Jadi Enmiriya akan menunggu sendiri selama sekitar 2 jam. Apa boleh begini?

Dan langsung gw ambil keputusan. “Gw ikut Underworld.”

Yah, akhirnya gw nonton berdua film Underworld, lalu ke Amazon dan begini dan begitu, sambil menunggu yang lain (Benjamin Button belum selesai) sampai bokap telepon. Katanya kalau mau dijemput bilang aja, ga usah tunggu temen yang lain.

Tapi gw bilang, jemputnya nanti aja, jangan sekarang. Meskipun sebenarnya gw udah mau pulang, tapi teteup gw bilang begitu. Kenapa? Karena ada cewek yang musti gw jagain (apalagi dia sendirian doang). Pikiran kuno memang. Real old fashioned knight in rusty armour. Tapi I am who I am, ga mungkin berubah.

Trus jalan-jalan lagi, dan main lagi di Amazon. Cukup lama juga lo. Tapi tanpa diduga ketemu Vincent yang datang lagi sama saudara-saudaranya. Kebetulan yang sangat menyenangkan! Kami berkaraoke sebentar, dan Enmiriya gw titip ke Vincent. Udah tenang sekarang, bisa pulang.

Gw akhirnya dijemput bokap dan diperjalanan gw habiskan untuk berpikir.

Dan saat makan sate Padang di Sabang yang banyak banget turisnya, gw menemukan stiker menarik.

stiker bagus

Sebuah senyum kecil muncul di muka. Ya, apakah kami seperti ini?

Bingung ya baca post si Anton? Welcome to Anton world!

“Nonchalant” (by: Chapeaumelon) lyric

Tout seul et roi
Je suis nonchalant
Plus d’ambition
J’evite l’action

J’ai peur de moi dormant sur le divan
Je crois que je meurs lentement
L’inertie me colle au sofa

Disparition de ma foi
Prier, crier
Je dois faire
Pour esperer la retrouver

Disparition de ma foi
Prier, crier
Je dois faire
Pour esperer la retrouver

Dans mon confort
Je ne fais plus d’effort
Je ne dis plus bonjour
Je suis devenu sourd
Sans gymnastique
Un corps lethargique

J’ai peur de moi dormant sur le divan
Je crois que je meurs lentement
L’inertie me colle au sofa

Disparition de ma foi
Prier, crier
Je dois faire
Pour esperer la retrouver

Disparition de ma foi
Prier, crier
Je dois faire
Pour esperer la retrouver

Esperer la retrouver

Pas de fermete
Je bois du cafe
Je n’ai qu’une seule cible
Oui c’est l’inutile
Par habitude
Je reste dans ma bulle

J’ai peur de moi dormant sur le divan
Je crois que je meurs lentement
L’inertie me colle au sofa

Disparition de ma foi
Prier, crier
Je dois faire
Pour esperer la retrouver

Disparition de ma foi
Prier, crier
Je dois faire
Pour esperer la retrouver

Disparition de ma foi
Prier, crier
Je dois faire
Pour esperer la retrouver…

(link to song)

Kronik Pesta Pytia (fragmen 2)

cen-cen

… Para prajurit lalu meluncur ke Pluit Junction melalui dua jalur ekspedisi yang berbeda. Unit pertama terdiri dari Anton, Pytia, Evelyn, dan Amelia berangkat duluan dengan mobil Evelyn dan masuk PJ melalui pintu belakang. Unit kedua berangkat belakangan dengan mobil Trisha, tersusun dari Trisha, Karina, Enmiriya, dan Kevin Pramudianto, masuk ke PJ melalui lobby depan.

Tujuan utama adalah Cuisine Cuisine, sebuah restoran chinese di lantai di atas lantai dasar. Dengan cepat pasukan penghabis makanan mengelilingi meja makan bundar besar yang telah disediakan. Makanan demi makanan datang secara beriringan dan dengan santai disapu oleh makhluk-makhluk ini. Personil pun bertambah seiring berjalannya waktu. Vincent datang, kemudian Madame Astride pun finally turned up.

Hihihi…bajunya Madame sih kemeja putih yang menurut gw simple, tapi yang di tangannya itu yang menghebohkan, menggemparkan, menarik perhatian…hehe.. Gelangnya “lebih dari satu” dengan ukuran yang “tidak kecil” dan warna yang “menyilaukan”. Ditambah lagi cincin si Madame yang “membuat mata ingin melihat”. Mungkin gw kuper, mungkin gw emang ga pernah bergaul di lingkungan seperti ini, tapi waktu gw liat Vincent sambil nunjuk ke arah Madame, dia juga ikut senyum “seperti itu” dan ngangguk-ngangguk kecil.

Kami makan dengan santainya, sambil ngobrol-ngobrol, dan tertawa cekikikan sampai terbahak-bahak. Menyenangkan…

Setelah beberapa lama, perut sudah terasa penuh, bahkan sudah mau muntah. Yang kumpul di meja itu adalah 3 wortel dan 7 tomat. Para tomat tidak bisa makan banyak, dan 3 wortel tidak mencukupi untuk menghabiskan makanan. Ini semua karena prajurit elit Steven yang tugasnya sebagai sweeper paling diandalkan dalam menyikat meja (meja! bukan piring!) tidak bisa hadir karena satu dan berbagai hal. Akhirnya, makanan masih tersisa banyak….

Selesai makan, gerombolan ini berdefile ke bioskop. Lalu dimulailah perdebatan mengenai film yang akan ditonton. Perdebatan cukup panas diantara kedua kubu: kubu “Benjamin Button!” dan kubu “pokoknya selain Benjamin Button!”. Saya sendiri tidak berada di kubu yang manapun, karena saya memang tidak terlalu perduli. Setelah perdebatan dipending (tanpa kesimpulan apapun), kami berpencar, gw dan Vincent memutuskan cabut ke Amazon.

Untuk apa ke Amazon yang notabene terkenal sebagai play zone yang levelnya anak-anak? Satu kata, satu seruan: KARAOKE!

Dua koin, satu lagu. Bersahabat dengan kantong, kan?!

Mulailah kami mencari ruangan strategis, di belakang pilar, dan dekat ke mesin permainan yang berisik. Masukkan koin, dan… Yiiiihaaaa! Konser dimulai !!!! Inilah Anton ft.Vincent !

—Sekedar keterangan, meskipun di peraturan tertulis ruangan diminta duduk dengan tenang, tetapi tidak ada yang bisa menahan kami dari melompat-lompat dan menari-nari, ataupun bergaya-gaya layaknya penyanyi di atas panggung di tengah alunan musik yang menggila (sayang ga dividioin, padahal ngocok perut tuh). Dan mic tidak menghalangi kami dari mengeluarkan power suara sebesar-besarnya—-

Lagu pertama: Ade {Project Pop}

[(gw)Ade ku sayang…. (Vincent) Iya, bang?!…..]Wkwkwkwk….

Lagu kedua:  Sepanjang Usia {Kerispatih}

[trengtengtengtrererengtrengtengtengtrereretrengtengteng…Tak pernah kubayaaaangkan! Tempat di sisi hatiku yang kosong!…]

Lagu ketiga:  Kisah Romantis {Glenn Fredly}

[Dan…dengarlah sayangkuuu! Aku mohon kau menikah dengan kuuuu!… syadadapsyadadapsyadadapdap….] Wow, dapet nilai tertinggi: 75! Memang harus rekaman !

Lagu keempat: Kau Curi Lagi {JRocks}

[Kau cuuuuriiii lagiiiiii huuuuuuuuuuuuuuu….]Di titik huuu ini, mic mulai rusak. Dan suara mulai serak. Jadi kami istirahat sejenak dan mencari minum tiga ribuan.

Cari mencari minum dan akhirnya ketemu, scr kebetulan ketemu Morica dan Tony (lg bergandengan) dkk. Mereka mau nyanyi juga, tp di I-Sing. Chit-chat sedetik-duadetik trus kita lanjut lg karaoke di Amazon.

Di Amazon, ketemu lagi dengan Trisha cs (tanpa KP, karena sudah cabut pulang duluan). Karaoke pun dimulai. Kali ini dengan groupies! Woohooo!

Lagu demi lagu mengalun…Ceria, Tu Wa Ga Pat, More Than Words, sampai akhirnya…

To be continued…

Kronik Pesta Pytia (fragmen 1)

image008

Hari ini, seorang temen gw yg namanya Pytia ngundang makan-makan di Pluit Junction dalam rangka pesta ulang tahun, yang baru akan dirayakan Sabtu ini (ulang tahunnya sendiri tgl 18). Makan-makannya dijadwalkan jam 12.

Pagi ini, gw udah bangun pagi-pagi, kencing, mandi, pake baju, minum susu, makan mie, dll. dan menunggu si putri cantik datang.

Yak, akhirnya si Amel datang dan pergilah kami dengan Honda Jazz bersama bapak gw. Ngueeeeeeng…lewat tol….macet dikit…ketemu penjual lighter yg bapak gw kenal…. bruuum… nyampe deh ke CBD Pluit jam 11.

Loh, kok CBD Pluit? Karena ada pesta kejutan yang sudah direncanakan oleh kawan-kawan untuk Pytia, langsung di sarangnya (baca: rumahnya) di CBD Pluit. Bapak gw turunin gw dan Amel di depan gerbang CBD.

Dan ternyata baru kita yang nyampe sini. Akhirnya kita berduaan dulu deh sekitar 15 menit di deket pagar CBD Pluit itu, sambil diliatin satpam-satpam dan penghuni-penghuni CBD Pluit. Amel sih agak malu, tapi gw seneng aje.

Akhirnya si Evelyn datang dengan mobilnya. Demi menyelamatkan muka dari rasa malu, dan kulit dari tembakan sinar matahari siang, kami segera pintong deh ke mobil Evelyn.

Kami menunggu, dan menunggu, dan menunggu, dan menunggu lagi kontingen pasukan yang lain. Kontingen pembawa kue yang kami tunggu ini, yang meskipun sudah menyadari pentingnya tugas mereka, memang sudah luar biasa terbiasa dalam membiasakan diri membuat orang biasa menunggu mereka yang terbiasa luar biasa terlambat! Sudah jam 11.30 lewat dan kontingen Trisha masih belum datang!

Jengkel sudah tidak ada lagi, PANIK yang menyerang! Bisa-bisa terlambat nih! Trisha cs tidak bisa dihubungi ! Lengkap deh masalahnya.

Akhirnya, mobil kijang milik Trisha datang. Dan dengan tampang tidak bersalah, Trisha, Karina, dan KP beranjak keluar dari mobil itu dengan membawa kue. Kemudian Enmiriya datang dengan mobilnya sendiri.

Bersama-sama kami berjalan ke arah rumah Pytia. Rumah yang tidak kami ketahui dengan pasti alamatnya. Petunjuk yang ada hanyalah pohon kedondong dan pot dengan kelereng di dalamnya -_-! Kami berjalan beberapa saat dengan gaya yang sok cool (atau mungkin cuma gw) di jalan dengan angin yang bertiup kencang dan tiba-tiba harus bersembunyi di belakang pagar hidup dengan merunduk seperti dalam perang. Kenapa? Karena angin bertiup kencang dan lilin tidak bisa dinyalakan. Tambah parahnya, Pytia keluar dari rumah dan sekilas melihat kami.

We Are Spotted! Dan kami pun bersembunyi seperti kancil bersembunyi dari Pak Tani. Yak, ketawan ga ketawan kami memutuskan untuk tetap melaksanakan rencana yang sudah kepalang tanggung untuk dibatalkan ini. Kami menyerah dari berusaha menyalakan lilin sial itu (angin kurang ajar!) dan membawa kue itu ke depan pintu rumah sang target dengan power walk.

“Pytia! Selamat Ulang Tahun!” kami menyapa Pytia yang membuka pintu untuk kami. Ia tersenyum dan berterimakasih, tetapi tidak terkejut sama sekali.

Surprise gagal, tapi rencana tetap berhasil. Intinya kan kue udah nyampe!

Kami foto-foto sebentar dan berusaha keras menyalakan lilin sial itu (sumbunya kayak kebal api!). Dan kemudian acara blah-blah biasa seperti ulang tahun lainnya. Sebelum pergi ke PJ, kami sempat bertemu adik kecil Pytia yang cantiiiik dan tidak bisa bahasa Indonesia (serius loh! bisanya cuman Inggris!), umurnya mungkin sekitar 10 atau 11.

Argghh! Gw lupa menanyakan nama si Xiao Yan Zi yang imut itu!

Sayang sekali, Anton!

To be continued….

What a lovely dialogue!

Tonight, I watched a romantic comedy film titled “My Best Friend’s Wedding”. It was an old movie, replayed many times at TV. I love it!

Julia Robert was undeniably charming, but Cameron Diaz was outstanding!

But what really fascinate me in that movie is the last dialogue!

It was the dialogue between George Downes (Rupert Everett) and Julianne Potter (Julia Robert). Jules was sitting on the chair alone at the wedding’s dinner party when suddenly her handphone rang.

George Downes: [on the phone] The misery, the exquisite tragedy. The Susan Hayward of it all. I can just picture you there, sitting alone at your table in your lavender gown.


Julianne Potter: [on the phone] Did I tell you my gown was lavender?

George Downes: [on the phone] Hair swept up. Haven’t touched your cake. Probably drumming your fingernails on the white linen tablecloth, the way you do when you’re really feeling down. Perhaps looking at those nails thinking: ‘God, I should have stopped in all my evil plotting to have that manicure, but it’s too late now.

Julianne Potter: [on the phone] George, I didn’t tell you my dress was lavender.

George Downes: [on the phone] Suddenly, a familiar song. And, you’re off your chair in one, exquisite movement… wondering, searching, sniffing the wind like a dapple deer. Has God heard your little prayer? Will Cinderella dance again? And then, suddenly [Jules saw him], the crowds part and there he is: sleek, stylish… radiant with charisma. Bizarrely, he’s on the telephone. But then, so are you. And then he comes towards you… the moves of a jungle cat. Although you quite correctly sense that he is… gay… like most devastatingly handsome single men of his age are, you think… what the hell. Life goes on [while taking his phone and Jules to his pocket]. Maybe there won’t be marriage… maybe there won’t be sex… but, by God, there’ll be dancing.

Still “Jomblo” until 2009

Jomblo or single or not-yet-taken. That’s me!

Yeah, even until this Valentine I’m still celebrating it as a Jomblo.

Sometimes I take a time to think about it. What makes me a single even until now. And I make these conclusions:

-I’m still waiting for the right person.

-I’m afraid of getting involved in a serious relationship.

-I get nervous around women.

-I’m afraid of hurting someone. You know, just in case thing goes bad and we break up. I don’t want it happens.

-The least, because the most shameful for me, it’s because I’m not interesting enough for girls.

Well, how bout you, singles? What makes you single?

Happy Valentine! T_T

Ryan. Sinting dan Masih Hidup.

Tadi lagi berselancar di net dan gw menemukan ini.

Wow, gw ga yakin Ryan ini manusia.

Jika dibilang psikopat, kyknya udah lebih dari itu deh.

Makhluk ini membunuh dengan sadar dan tenang, dan yang paling parahnya ia tidak merasa bersalah sama sekali.

Ia bisa mengubur jasad korban-korbannya dengan baik tanpa ketakutan dan menikmati ruang kos maupun kekayaan korbannya tanpa segan.

Bahkan saat diinterogasi dan diliput media, Ryan ini, menjawab dengan nada yang benar-benar tidak terbersit kepanikan ataupun emosi sekecil apapun.

Dan narapidana ini telah selesai menelurkan buku semasa ia mengeram di penjara berjudul “The Untold story of Ryan”. Kebayang ga tuh? Hehehe.. Dunia yang aneh!

Berkarisma dan sinting. Kombinasi yang mematikan.

Walah! Semoga aja Ryan cuman ada satu di Indonesia.