Psikologi, suami dari Biologi.

Jika Kimia dan Fisika adalah saudara-saudara dari Biologi, dengan Matematika dan Filsafat sebagai orangtua mereka, maka Psikologi dapat dibilang adalah suami dari Biologi.

Mengapa saya bilang begitu? Biar saya jelaskan.

Setelah sekitar 1 tahun bergelut dalam klub Biologi dan memperdalam Biologi sampai ke bagian kulit bagian dalam (maksudnya masih agak cetek gitu) dengan bimbingan Sennin Didip dan Master Tejo, saya menemukan berbagai hal yang aneh.

Ada berbagai penyakit, dari yang hanya merepotkan sampai mematikan pada manusia yang tidak disebabkan oleh racun, radiasi, bakteri, virus, maupun polutan atau elemen asing dari luar tubuh. Tubuh yang kegiatan sehari-harinya secara teoritis sehat, dengan sel yang prima dan gizi yang cukup, dapat secara tiba-tiba terserang penyakit. Organ-organ yang penting dalam sistem regulasi dan metabolisme tubuh kita, tiba-tiba bisa rusak tanpa adanya infeksi ataupun agen asing dari luar. Tubuh yang seharusnya bekerja secara sempurna tiba-tiba melakukan kesalahan fatal, seperti tidak bisa menyaring darah, tidak bisa memproses gula, penumpukan zat-zat berlebihan, atau menurunnya penyerapan gizi (gizi ada tetapi banyak yang dibuang).

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Setelah saya bertanya kepada guru saya, saya terkejut dengan jawaban mereka. Belum diketahui ! Menurut perkiraan, hal-hal itu terjadi karena tubuh membunuh tubuh! Tubuh merusak sel-sel tubuh ! Tubuh menyakiti organ-organnya sendiri! Tubuh menonaktifkan sistemnya sendiri! Bagaimana bisa? Menurut guru saya, diperkirakan efek psikologis dan emosional pada otak (ketika kita marah, sedih, stress, frustasi, etc.) memicu sebuah sistem aneh. Otak memerintahkan hormon-hormon tertentu untuk keluar dan memicu “bunuh diri” sel-sel tertentu.

Dan efek sebaliknya terjadi ketika kita merasa gembira, bahagia, etc. Penyakit-penyakit yang menjangkiti tubuh, secara perlahan bisa sembuh tanpa bantuan obat! Loh, kok begitu? Tidak tahu.

Tentu saja hal ini belum terbukti, atau saya belum mendapat informasi yang membenarkan hal itu. Tetapi jika hal ini benar, maka tidak salah jika ada amsal mengatakan: “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Maka saya katakan, ilmu psikologi, sebuah cabang ilmu yang berusaha mengobati pikiran dan mental manusia, sebuah cabang ilmu yang menyembuhkan sesuatu yang tidak dapat diukur oleh angka, adalah sebuah pelengkap bagi Biologi. Seorang suami yang setia dan membuat Biologi utuh.

P.S. :

Ada banyak hal di dunia ini yang belum dapat dimengerti oleh manusia. Penelitian ilmiah sekalipun sebenarnya (menurut saya) belum bisa membuka misteri teka-teki alam. Kita hanya bisa menyatakan sesuatu yang berlaku, tanpa bisa memaparkan sistem yang membuatnya bekerja secara pasti ataupun mengaplikasikannya secara sempurna. Contoh: saya katakan X bergerak seperti ini, tetapi saya tidak bisa menjelaskan mengapa X bergerak seperti ini dan bukan gerakan-gerakan lain. Kita membuat, mengotak-atik (dengan nama lain memodifikasi) dan menyusun berbagai “barang alam” (materi, atom, partikel, zat, gen, dll) tetapi sama sekali kita tidak bisa mencapai tahap dimana kita bisa mencipta.

Hanya Tuhan yang bisa menciptakan segala hal. Dan saya setuju dengan hal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s