Ragi dan Manusia

 

 

 

Anda tahu ragi?

Ya, bakteri yang bisa melakukan fermentasi dengan memproses glukosa menjadi CO2 dan alkohol (rumus: C6H12O6 → 2C2H5OH + 2CO2). Jadi, sederhananya: masukkan gula, biarkan ragi memakannya, dan ia akan mengeluarkan alkohol plus karbondioksida. Sering dipakai dalam pembuatan wine, tape, rum, dan minuman-minuman beralkohol, dan juga untuk pengembangan roti.

Ragi yang tadinya sedikit akan berkembangbiak dengan subur dalam ruang hidup cukup nutrisi dan kondisi suhu yang pantas. Nutrisi itu akan mereka ambil bagaikan sedang mengadakan pesta perjamuan besar-besaran dengan makanan tidak terbatas, dan tanpa henti-hentinya mereka akan makan dengan lahap. Berkembang biak dan berkembang biak dalam kemakmuran sambil terus mengeluarkan alkohol dan CO2.

Lalu kapan mereka akan berhenti? (di luar faktor kontaminasi atau serangan dari luar dan perubahan suhu)

Alkohol semakin tinggi, nutrisi semakin habis, maka masyarakat ragi akan mati…dan mereka akan berhenti.

Ok, anggap saja nutrisi tidak terbatas, ragi tetap akan mati. Mengapa? Karena alkohol, produk mereka, akan membunuh mereka.

Ragi hanya tahan alkohol 7%-9% (untuk roti) dan sampai 19% (untuk pembuatan minuman keras). Lebih dari itu, mereka akan mati.

Mereka mati karena memproduksi alkohol. Mereka mati karena tindakan mereka sendiri.

-

-

Berikut ini adalah satu dari banyak perumpamaan jika kita mengaitkan manusia dengan kehidupan ragi.

Sekarang, mari kita umpamakan manusia, diri kita sendiri, sebagai ragi. Bumi sebagai sumber nutrisi. Tidak perlu faktor luar kok untuk membuat manusia punah. Tidak perlu serangan alien, meledaknya matahari, atau meteor jatuh. Jika bukan karena kehabisan nutrisi, maka kita akan mati juga karena limbah yang kita hasilkan. Pertanyaannya, seberapa cepat kita ingin punah?

-

Bagaimana menurut anda?

Tahukah Anda? (dari RumaMaida.com)

Berikut ini adalah beberapa info menarik yang saya dapat dari website Ruma Maida:

-

-

1 Tahun 1928, dari penduduk Indonesia yg berjumlah 60 juta jiwa, ada 4,9% penduduk menggunakan bahasa melayu, 47% penduduk menggunakan bahasa jawa, dan 14,5% penduduk menggunakan bahasa Sunda.

2
Harian Sin Po, adalah harian yang pertama kali berani memuat teks Indonesia Raya, dan turut mempelopori penggunaan nama Indonesia untuk menggantikan “Hindia-Belanda”
3
Tahukah Anda bahwa tokoh sumpah pemuda Muhammad Yamin begitu mencintai Nusantara hingga ia suka tidur di Candi Borobudur
4
Badan Warisan Sumatra (BWS) mencatat sekitar 60 persen dari 600 bangunan cagar budaya di Kota Medan mengalami kerusakan. Sebanyak 30 persen bangunan-bangunan berusia 50 tahun ke atas itu dirusak oleh pemerintah sendiri, pemilik dan developer. Selebihnya, bangunan itu tidak terawat.
5
Akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal dengan nama fado. Kemudian, di Betawi yang penduduknya sangat majemuk (Betawi, Jawa, Sunda, Maluku, Melayu, Arab, India, Cina, dll) musik tersebut dikembangkan menjadi Keroncong Tugu. Di Jawa, keroncong diadaptasi menjadi Langgam Jawa dan seterusnya berkembang menjadi Campur Sari.
6
Data Depsos menyebutkan, anak terlantar tahun 2006 sebanyak 2,15 juta anak sedangkan anak jalanan mencapai 94.000 anak.
7
Faktanya perempuan ikut mendeklarasian Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Saat itu pada organisasi umum juga divisi perempuan seperti Wanito Tomo dari Boedi Oetomo, Poetri Indonesia dari Poetra Indonesia dan Wanita Taman Siswa dari Taman Siswa. Organisasi perempuan yang berdiri di awal gerakan di antaranya adalah Putri Mardika, 1916.
8
Nama lengkap Soekarno ketika lahir adalah Kusno Sosrodihardjo. Ketika masih kecil, karena sering sakit-sakitan, menurut kebiasaan orang Jawa; oleh orang tuanya namanya diganti menjadi Soekarno.
9
Tahukah Anda bahwa lagu Juwita Malam yang dinyanyikan oleh Band Naif di film RumaMaida, di karang oleh Ismail Marzuki ?
10
Mr. Sjafruddin Prawiranegara,-Menteri Kemakmuran RI pernah menjadi Presiden RI darurat selama 7 bulan sebelum akhirnya menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta
11
Negatif Film Foto Kemerdekaan sempat di sembunyikan sang fotografer di bawah pohon sehingga tidak di ambil tentara Jepang
12
Sekitar 1,000 orang tentara Kekaisaran Jepang diperkirakan melakukan desersi dan tetap tinggal di Indonesia, sebagian besar menetap di Pulau Sumatra, Jawa dan Bali, setelah Jepang menyerah kepada tentara sekutu pada 15 Agustus 1945. Setelah perang usai, beberapa dari mereka tidak pernah kembali ke Jepang.
13
Nama negara Indonesia dulu adalah Netherlands East Indies/Dutch East Indies
14
Hampir di setiap kota dan pelosok Indonesia pasti ada peninggalan bangunan-bangunan yang sudah berumur 100 hingga ratusan tahun. Tapi sayang, sebagian besar tidak terawat bahkan rusak / dihancurkan hingga tidak berbentuk dan hilang.
15
Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah pemuda keturunan arab. Pada tanggal 4-5 Oktober 1934, para pemuda keturunan Arab di Nusantara melakukan kongres di Semarang. Dalam kongres ini mereka bersepakat untuk mengakui Indonesia sebagai tanah air mereka, karena sebelumnya kalangan keturunan Arab berangapan bahwa tanah air mereka adalah negeri-negeri Arab dan senantiasa berorientasi ke Arab. Kongres pemuda keturunan Arab ini jarang diketahui masyarakat karena tidak diajarkan dalam mata pelajaran sejarah di Indonesia. Padahal, sumpah pemuda keturunan arab ini memiliki konsekuensi yang besar bagi diri mereka sebagai keturunan arab dan bagi dukungan perjuangan kemerdekaan di Indonesia.
16
Frans Soemarto Mendoer, adalah satu-satunya fotografer saat itu yang memotret  moment paling bersejarah saat proklamasi kemerdekaan RI 1945
17
Tahukah anda bahwa sebelumnya Ayu Utami tidak pernah mau menulis skenario untuk film karena biasanya pendekatannya hanya untuk tujuan komersil. Ayu bersedia menulis karena  berhubungan dengan kebangsaan Indonesia.
18
Tahukah anda Pancasila pada awalnya terdiri dari 3 sila.
19
Lagu Indonesia Raya sebenarnya terdiri dari 3 stanza.
20
Pada bagian rantai yang mewakili sila ke 2 Pancasila dalam lambang negara, salah satu gelang pada rantai awalnya berbentuk kotak.
21
Kongres II Oktober 1928 sebenarnya hampir gagal karena tidak mencapai kesepakatan politik untuk membentuk sebuah organisasi pemuda.

22
Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa artinya terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.
23
Sadarkah anda bahwa film ini memuat banyak sekali pesan, tentang kemanusiaan, pendidikan dan tentu saja sejarah ?

-

Diambil dan diedit dari: link

Anton Couture

I have seen some blogs like Astrid’s and Alberta’s, and so I thought it would be interesting to post something like that. You know…a photo about clothing and style. So, I post this photo:

First impression, he’s a terrorist.

But then you realized he has Pooh with him. Terroris kills, not carrying a doll. He must be something else.

He wore SMAK1 jacket, paired up with… Spiderman pajamas. He is unfashionably unfashionable, not an eyesore, but it is certainly unusual. And his cheap-unknown-brand-sunglasses together with the mask obviously added more thumbs down. Finally you realized that he’s just a little boy with his doll who is sick and has to go to the doctor at night.

After all that “euh”, “what?” and “swt”, you thrown at the picture above, it then made you think: what the heck is this weird guy doing?

Simply, he’s starting a new trend, a new craze, a new style, a new point of view on fashion, a revolutionary breakthrough on “how people should dress”.

Welcome to the future of clothing, where no one would be able to take their eyes off you. Just wait for Anton Winter Collection!

Juwita Malam

(dikarang oleh: Ismail Marzuki)

Engkau gemilang, malam cemerlang
Bagaikan bintang timur sedang mengembang
Tak jemu-jemu, mata memandang
aku namakan dikau Juwita Malam

Sinar matamu menari-nari
Langsung menembus ke dalam jantung kalbu
Aku terpikat, masuk perangkap
Apa daya asmara sudah melekat

reff: Juwita Malam siapakah gerangan Tuan?
Juwita Malam dari bulankah Tuan?

Kereta kita segera tiba
Di Jatinegara kita kan berpisah
Berilah nama alamat serta
Esok lusa kita kan berjumpa pula

Panah Asmara (Chrisye feat. Tohpati)

Berdebar rasa di dada
setiap kau tatap mataku
Apakah arti pandangan itu
menunjukkan hasratmu?

Sungguh aku t’lah tergoda
saat kau dekat denganku
Hanya kau yang membuatku begini
melepas panah asmara

reff: sudah katakan cinta
sudah ku bilang sayang
namun kau hanya diam
tersenyum kepadaku ^_^

kau buat aku bimbang
kau buat aku gelisah
ingin rasanya kau jadi milikku >.<

ku akan setia menanti
satu kata yang terucap
dari isi hati sanubarimu <3
yang membuatku bahagia

sungguh aku t’lah tergoda
saat kau dekat denganku
hanya kau yang membuatku begini
melepas panah asmara

repeat reff [2x]

ingin rasanya kau jadi milikku
kau jadi milikku

Anton’s note: This song has been around for sometime, but somehow it was not really well-known. This song is one of my favorites, I really wonder why it wasn’t popular. Well, then. Why don’t you search for this song at 4shared and listen to it? I promise you, you’ll like it. ^^

Kebaikan Masih Ada

Michelle

Banyak orang bilang bahwa dunia semakin jahat, manusia semakin jahat, kehidupan semakin jahat. “Jangan percaya orang lain!” bukankah hal itu kadang terdengar seperti sebuah nasehat, dan semakin lama semakin sering terdengar? Orang suka berbohong, teman menusuk teman, saudara memakan saudara, pejabat korupsi dan rakyat menyuap, penipu menipu dan kemudian tertipu, pencurian, pencopetan, perampokan, pembunuhan, et cetera… Demikianlah gambaran kehidupan manusia di zaman ini…atau setidaknya begitulah gambaran kehidupan di luar sana yang Anton dapatkan setelah melihat banyak berita-berita, dan cerita-cerita tidak baik, serta pesan dari Mama: Hati-hati, awas dicopet, awas dihipnotis, awas diculik, awas dibius, dan lain-lain. Dunia terlihat menakutkan untuk dijelajahi. Dan nampaknya kita harus mencurigai semua orang demi kebaikan kita sendiri.

Lalu kenapa Anton mem-post dengan judul seperti ini?

Karena saya telah melihat pesan-pesan yang kebaikan berikan. Sinyal-sinyal lemah yang samar, tetapi dapat dilihat jika kita memperhatikan.

Saat saya berada dalam Transjakarta yang penuh sesak, seorang pemuda berdiri dan memberikan tempat duduknya kepada seorang wanita tua. Aksi kecil dan sederhana, bukan?! Tapi hal itu saya lihat sebagai suatu tindakan yang menunjukkan kebaikan murni, mengorbankan kenyamanan, sekalipun sangat sedikit, dan memberikannya kepada orang lain. Diluar apakah hal itu karena ajaran orangtuanya, malu dilihat orang lain, atau hal-hal yang saya tidak ketahui, yang dia lakukan adalah sebuah kebaikan di mata saya.

Lalu hal lainnya adalah ketika saya melihat seorang polisi lalu lintas mengantar seorang gelandangan kecil menyeberang jalan. Polisi yang sama yang selalu dikutuki, yang gendut karena malas, yang menerima gaji buta, yang identik dengan pemerasan, pungli, suap, mencari-cari kesalahan, dan tilang tidak adil. Polisi yang orangtua saya selalu cap sebagai bajingan. Polisi ini mau repot-repot mengantar seorang anak gelandangan menyeberang jalan. Pemandangan itu sungguh tidak biasa bagi saya, dan mengejutkan juga.

Entah bagaimana saya mengutarakan perasaan saya. Saya tahu bahwa contoh-contoh itu hanyalah contoh yang mungkin hanya sebuah hal kecil, tidak menunjukkan apapun. Tapi justru bagi saya, saya seperti melihat sang kebaikan sedang berteriak-teriak dengan suaranya yang hampir habis: “Ini aku! Aku masih di sini! Aku masih ada!” Ada kebaikan dalam setiap orang, ia tidak akan hilang. Situasi dan kondisi membuatnya tertekan, nafsu dan kejahatan  menutupi dirinya, tetapi ia tetap ada.

Ia bagaikan petualang yang terjebak longsoran tanah, tetapi tetap berjuang untuk bertahan hidup. Berteriak-teriak dengan sekuat tenaga, semakin lama semakin lemah, dengan terus berharap ia akan ditemukan dan dikeluarkan. Ia belum mati, dan teruslah mencarinya.

Janganlah kehilangan harapan akan kebaikan pada hati manusia! ^^

BLITZ? (part 1)

aa

Breaking the Limit to Reach the Zenith (BLITZ) adalah tema untuk SMAK 1 Cup 2009. Menurut logika Anton, kalimat ini cukup aneh. Limit itu batas, Zenith itu puncak. Terjemahan kasarnya mungkin ‘menembus batas untuk mencapai puncak’. Nah, kalau sudah melewati batas berarti sudah melewati puncak, dong! Begitulah menurut logika Anton yang merasa tema itu tidak logis. Bingung? Nevermind then.

Saya jadi panitia dalam SMAK 1 Cup kali ini, dalam seksi yang sama dengan Bang Andhika (seorang senior Biologi) tahun lalu: Seksi Lomba Fotografi. Dan sama seperti Bang Andhika, saya pun ditempatkan dibawah koordinasi seorang adik kelas.

Jadi panitia…entah bagaimana mengatakannya…Ketua menghimbau kami untuk memiliki komitmen dan menganggap acara ini seperti acara kami sendiri. Sepanjang acara ini saya tidak merasakan hal itu. Harus saya akui hal itu benar. Saya bekerja bukan karena saya ingin mensukseskan acara ini, tetapi agar teman-teman saya tidak sedih karena acara ini gagal. “Acara ini milik mereka, bukan saya.” Itulah yang selalu berada dalam benak saya.

Memang aneh, tetapi perasaan ini berbeda jauh dengan perasaan saya dulu pada saat SMP, saat saya menjadi Ketua Seksi Dokumentasi Pentas Seni. Saat itu kami semua mengeluarkan uang sampai 60ribu, dan saya tidak merasa sayang. Saya bekerja dengan keras, mengedit video berjam-jam, menyiapkan segala peralatan, membuat surat-surat undangan. Dan bahkan pernah saya sampai bentrok dengan seorang guru karena masalah bahasa dalam surat undangan. “Acara ini harus berhasil!” Itulah pikiran saya saat itu.

Saya selalu dalam pikiran saya mengkritisi, mencela, dan mencari-cari kesalahan dalam BLITZ. Sedangkan dulu saya begitu antusianya dan selalu berpikiran bahwa semuanya sudah dilakukan sebisa kami dalam Pensi.

Mungkin salah satu penyebabnya adalah saya bekerja bersama orang-orang yang namanya saja saya tidak tahu. Atau mungkin hal lain. Entahlah…

Disaat orang lain menulis post mengenai BLITZ dengan menggebu-gebu dan memori bahagia, saya menulis sebuah post yang tidak menyenangkan. Haha..memang Anton aneh.

Sabil and Karon

Prelude

They looked at each others eyes from a distance. Then, without any word spoken, they walked away from each other with a grim face. To opposite sides they went, West and South. One with a pair of black eyes, called Sabil, and the other, with blue eyes called Karon. One day, they would met each other again, eventually. This is not the beginning…this is a little random fragment of unknown chronology.

Kaos Kaki Baru

Kira-kira dua bulan yang lalu Mama suruh beli kaos kaki baru. Ya, memang kaos kakiku hampir semuanya sudah bolong-bolong parah, saking parahnya pernah menjadi juara kaos kaki terbolong yang waktu itu diadakan secara tidak resmi di UKRIDA (serius loh! hadiahnya dapet flashdisk 1).

Setelah saya membeli satu pasang, esok harinya saya coba pakai. Mampus deh! Sama sekali tidak nyaman, malah mungkin bisa dibilang tersiksa memakai kaos kaki itu. Kaos kaki SMAK 1 (seperti yang terlihat di gambar) itu luar biasa ketat, terutama di bagian lehernya (atau kepala?), karetnya mencekek kaki. Dari pertama dipakai sudah terasa ketidaknyamanannya dan bahkan setelah saya bertahan untuk terus memakainya, rasa gatal dan sesak semakin  terakumulasi. Sesekali saya lepas kaos kaki terkutuk itu, dan saya bisa melihat ada “bekas cekikan” kaos kaki itu yang begitu sadis dan mengenaskan (pernyataan dilebih-lebihkan).  Hal itu menimbulkan kejengkelan, yang kemudian berganti menjadi amarah. Urgh! Sejak hari itu, saya berusaha sebisa saya untuk tidak memakai kaos kaki itu dan selalu memilih kaos kaki lain (yang meskipun compang-camping tetapi lebih melar dan nyaman), untuk pergi ke sekolah.

Tanpa terasa, sampai hari ini, sudah dua bulan kaos kaki itu saya tinggalkan dalam lemari. Dan tadi pagi saya baru menyadarinya setelah Mama menyuruh saya memakai kaos kaki itu. Saat saya melihatnya, saya teringat lagi rasa tidak nyaman dan kejengkelan yang benda itu timbulkan. Tetapi toh akhirnya saya putuskan untuk pakai juga hari ini.

Saya menemukan sebuah pesan tersendiri pada cerita kehidupan saya ini. Kaos kaki baru yang menjengkelkan itu saya bisa gambarkan sebagai hal-hal baru, perubahan-perubahan, masalah-masalah yang datang. Kaos kaki lama saya (detail mengenai bolong-bolong dan compang campingnya dilupakan saja), saya ibaratkan sebagai zona aman, zona nyaman, hal-hal lama, hal-hal yang saya sudah kenal dengan baik, masalah-masalah yang sudah saya kalahkan. Saya merasa sangat menderita karena kaos kaki baru itu, dan saya membencinya, serta menghindari menghadapi kaos kaki itu. Saya lebih suka terus bersama kaos kaki- kaos kaki lama yang sudah melar karena lebih nyaman, tanpa saya ingat bahwa kaos kaki-kaos kaki itupun dulu juga menyiksa saat masih baru.

Apa gunanya saya menghindari memakai kaos kaki baru itu?  Kaos kaki itu akan tetap ada di lemari dan saya pun harus memakainya juga suatu hari nanti. Justru dengan saya sering memakainya, kaos kaki itu akan bertambah melar dan kemudian menjadi nyaman.

Semoga anda mendapat maksud dari post membingungkan ini! Hehe…

Masihkah dalam revolusi?

Revolusi, revolusi…merubah sesuatu dengan cepat dan drastis, penggulingan pemerintah oleh yang diperintah…

Ada Revolusi Perancis, Revolusi Industri, Revolusi Hijau, perjuangan kemerdekaanpun adalah revolusi, termasuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dua orang Bapak Proklamator kita, Sang Dwitunggal, ternyata memiliki pendapat berbeda mengenai Revolusi Indonesia, perbedaan pendapat yang kemudian ikut andil memecah mereka.

Soekarno

Sang Panglima Besar Revolusi, Yang Mulia Presiden Republik Indonesia, Ir.Soekarno, berulangkali menegaskan bahwa revolusi Indonesia belum selesai. Revolusi akan tetap berjalan sampai kapanpun.

Bung Karno membagi revolusi dalam 3 tahap:

1. Tahun 1945-1955. Revolusi Fisik. Indonesia memasuki fase merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari kaum Imperialis dengan mengorbankan darah.

2. Tahun 1956-?. Revolusi Nasional. Fase dimana bangsa Indonesia membuang akar-akar kapitalisme dan sisa-sisa Imperialisme, juga membangun dan menggembleng pemerintahan baru, hukum baru, negara baru, untuk mencapai satu masyarakat yang adil dan makmur (tata-tentram-kerta-raharja). Fase ini adalah fase untuk mempersiapkan fase selanjutnya.

3. Tahun ?. Revolusi Sosial. Fase ini baru bisa dimasuki setelah fase sebelumnya dilewati, hal itu bisa berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya. Fase pergerakan untuk mengubah sifat masyarakat Indonesia menjadi sesuai dengan cita-cita kemerdekaan. Masyarakat yang setiap orangnya merdeka secara jiwani.

Bung Karno juga menegaskan bahwa dalam revolusi pastinya ada langkah-langkah yang harus diambil dengan mengesampingkan hukum demi kepentingan rakyat sendiri. Karenanya, revolusi tidak boleh dipimpin oleh ahli hukum yang mementingkan legalitas.

Hatta

Berbeda dengan Soekarno, Bung Hatta selalu mengatakan bahwa revolusi sudah selesai. Revolusi telah berakhir saat penyerahan kedaulatan dalam perundingan KMB. Bagi Hatta, revolusi adalah letupan masyarakat yang melakukan penjungkiran nilai-nilai dan harus berhenti setelah tujuannya tercapai.

Revolusi menggoncangkan lantai dan sendi, pasak dan tiang jadi longgar semuanya. Karena itu revolusi tidak boleh berjalan terlalu lama, hanya beberapa waktu dan kemudian harus dibendung. Sesudah itu datang masa konsolidasi untuk merealisasikan cita-cita revolusi.

Jadi, yang belum selesai bukanlah revolusi, tetapi usaha untuk mengisi kemerdekaan setelah revolusi. Bung Hatta berpendapat bahwa revolusi yang tidak dibendung tepat waktu menyebabkan anarkisme, pemberontakan, kudeta, dan kekacauan politik maupun ekonomi. Apabila revolusi tidak dibendung pada waktunya, pasak dan tiang yang longgar tadi berantakan dan meruntuhkan bangunan. Sementara itu pihak-pihak oportunis masuk dan mengambil keuntungan dari situ. Dan diantara merdeka dan anarki tidak jelas lagi bedanya.

Karena itu, Bung Hatta menegaskan bahwa “revolusi sudah selesai”. Sekarang saatnya kita mengisi kemerdekaan, revolusi sudah selesai.

Bung Hatta juga berpendapat bahwa hukum tidak boleh dilanggar. Contohnya pada saat Soekarno memutuskan untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di Indonesia tanpa mengganti rugi untuk membangun negara, Hatta tidak setuju. Hatta berpendapat bahwa Indonesia harus membayar ganti rugi, karena kita bukanlah bangsa perampok, tetapi bangsa yang merdeka.

-

Bagaimana menurut anda? Masihkah bangsa Indonesia berada dalam revolusi memperebutkan kemerdekaan? Atau revolusi sudah selesai dan kita sekarang sedang mengisi kemerdekaan?