Panah Asmara (Chrisye feat. Tohpati)

Berdebar rasa di dada
setiap kau tatap mataku
Apakah arti pandangan itu
menunjukkan hasratmu?

Sungguh aku t’lah tergoda
saat kau dekat denganku
Hanya kau yang membuatku begini
melepas panah asmara

reff: sudah katakan cinta
sudah ku bilang sayang
namun kau hanya diam
tersenyum kepadaku ^_^

kau buat aku bimbang
kau buat aku gelisah
ingin rasanya kau jadi milikku >.<

ku akan setia menanti
satu kata yang terucap
dari isi hati sanubarimu <3
yang membuatku bahagia

sungguh aku t’lah tergoda
saat kau dekat denganku
hanya kau yang membuatku begini
melepas panah asmara

repeat reff [2x]

ingin rasanya kau jadi milikku
kau jadi milikku

Kebaikan Masih Ada

Michelle

Banyak orang bilang bahwa dunia semakin jahat, manusia semakin jahat, kehidupan semakin jahat. “Jangan percaya orang lain!” bukankah hal itu kadang terdengar seperti sebuah nasehat, dan semakin lama semakin sering terdengar? Orang suka berbohong, teman menusuk teman, saudara memakan saudara, pejabat korupsi dan rakyat menyuap, penipu menipu dan kemudian tertipu, pencurian, pencopetan, perampokan, pembunuhan, et cetera… Demikianlah gambaran kehidupan manusia di zaman ini…atau setidaknya begitulah gambaran kehidupan di luar sana yang Anton dapatkan setelah melihat banyak berita-berita, dan cerita-cerita tidak baik, serta pesan dari Mama: Hati-hati, awas dicopet, awas dihipnotis, awas diculik, awas dibius, dan lain-lain. Dunia terlihat menakutkan untuk dijelajahi. Dan nampaknya kita harus mencurigai semua orang demi kebaikan kita sendiri.

Lalu kenapa Anton mem-post dengan judul seperti ini?

Karena saya telah melihat pesan-pesan yang kebaikan berikan. Sinyal-sinyal lemah yang samar, tetapi dapat dilihat jika kita memperhatikan.

Saat saya berada dalam Transjakarta yang penuh sesak, seorang pemuda berdiri dan memberikan tempat duduknya kepada seorang wanita tua. Aksi kecil dan sederhana, bukan?! Tapi hal itu saya lihat sebagai suatu tindakan yang menunjukkan kebaikan murni, mengorbankan kenyamanan, sekalipun sangat sedikit, dan memberikannya kepada orang lain. Diluar apakah hal itu karena ajaran orangtuanya, malu dilihat orang lain, atau hal-hal yang saya tidak ketahui, yang dia lakukan adalah sebuah kebaikan di mata saya.

Lalu hal lainnya adalah ketika saya melihat seorang polisi lalu lintas mengantar seorang gelandangan kecil menyeberang jalan. Polisi yang sama yang selalu dikutuki, yang gendut karena malas, yang menerima gaji buta, yang identik dengan pemerasan, pungli, suap, mencari-cari kesalahan, dan tilang tidak adil. Polisi yang orangtua saya selalu cap sebagai bajingan. Polisi ini mau repot-repot mengantar seorang anak gelandangan menyeberang jalan. Pemandangan itu sungguh tidak biasa bagi saya, dan mengejutkan juga.

Entah bagaimana saya mengutarakan perasaan saya. Saya tahu bahwa contoh-contoh itu hanyalah contoh yang mungkin hanya sebuah hal kecil, tidak menunjukkan apapun. Tapi justru bagi saya, saya seperti melihat sang kebaikan sedang berteriak-teriak dengan suaranya yang hampir habis: “Ini aku! Aku masih di sini! Aku masih ada!” Ada kebaikan dalam setiap orang, ia tidak akan hilang. Situasi dan kondisi membuatnya tertekan, nafsu dan kejahatan  menutupi dirinya, tetapi ia tetap ada.

Ia bagaikan petualang yang terjebak longsoran tanah, tetapi tetap berjuang untuk bertahan hidup. Berteriak-teriak dengan sekuat tenaga, semakin lama semakin lemah, dengan terus berharap ia akan ditemukan dan dikeluarkan. Ia belum mati, dan teruslah mencarinya.

Janganlah kehilangan harapan akan kebaikan pada hati manusia! ^^

BLITZ? (part 1)

aa

Breaking the Limit to Reach the Zenith (BLITZ) adalah tema untuk SMAK 1 Cup 2009. Menurut logika Anton, kalimat ini cukup aneh. Limit itu batas, Zenith itu puncak. Terjemahan kasarnya mungkin ‘menembus batas untuk mencapai puncak’. Nah, kalau sudah melewati batas berarti sudah melewati puncak, dong! Begitulah menurut logika Anton yang merasa tema itu tidak logis. Bingung? Nevermind then.

Saya jadi panitia dalam SMAK 1 Cup kali ini, dalam seksi yang sama dengan Bang Andhika (seorang senior Biologi) tahun lalu: Seksi Lomba Fotografi. Dan sama seperti Bang Andhika, saya pun ditempatkan dibawah koordinasi seorang adik kelas.

Jadi panitia…entah bagaimana mengatakannya…Ketua menghimbau kami untuk memiliki komitmen dan menganggap acara ini seperti acara kami sendiri. Sepanjang acara ini saya tidak merasakan hal itu. Harus saya akui hal itu benar. Saya bekerja bukan karena saya ingin mensukseskan acara ini, tetapi agar teman-teman saya tidak sedih karena acara ini gagal. “Acara ini milik mereka, bukan saya.” Itulah yang selalu berada dalam benak saya.

Memang aneh, tetapi perasaan ini berbeda jauh dengan perasaan saya dulu pada saat SMP, saat saya menjadi Ketua Seksi Dokumentasi Pentas Seni. Saat itu kami semua mengeluarkan uang sampai 60ribu, dan saya tidak merasa sayang. Saya bekerja dengan keras, mengedit video berjam-jam, menyiapkan segala peralatan, membuat surat-surat undangan. Dan bahkan pernah saya sampai bentrok dengan seorang guru karena masalah bahasa dalam surat undangan. “Acara ini harus berhasil!” Itulah pikiran saya saat itu.

Saya selalu dalam pikiran saya mengkritisi, mencela, dan mencari-cari kesalahan dalam BLITZ. Sedangkan dulu saya begitu antusianya dan selalu berpikiran bahwa semuanya sudah dilakukan sebisa kami dalam Pensi.

Mungkin salah satu penyebabnya adalah saya bekerja bersama orang-orang yang namanya saja saya tidak tahu. Atau mungkin hal lain. Entahlah…

Disaat orang lain menulis post mengenai BLITZ dengan menggebu-gebu dan memori bahagia, saya menulis sebuah post yang tidak menyenangkan. Haha..memang Anton aneh.

Sabil and Karon

Prelude

They looked at each others eyes from a distance. Then, without any word spoken, they walked away from each other with a grim face. To opposite sides they went, West and South. One with a pair of black eyes, called Sabil, and the other, with blue eyes called Karon. One day, they would met each other again, eventually. This is not the beginning…this is a little random fragment of unknown chronology.

Kaos Kaki Baru

Kira-kira dua bulan yang lalu Mama suruh beli kaos kaki baru. Ya, memang kaos kakiku hampir semuanya sudah bolong-bolong parah, saking parahnya pernah menjadi juara kaos kaki terbolong yang waktu itu diadakan secara tidak resmi di UKRIDA (serius loh! hadiahnya dapet flashdisk 1).

Setelah saya membeli satu pasang, esok harinya saya coba pakai. Mampus deh! Sama sekali tidak nyaman, malah mungkin bisa dibilang tersiksa memakai kaos kaki itu. Kaos kaki SMAK 1 (seperti yang terlihat di gambar) itu luar biasa ketat, terutama di bagian lehernya (atau kepala?), karetnya mencekek kaki. Dari pertama dipakai sudah terasa ketidaknyamanannya dan bahkan setelah saya bertahan untuk terus memakainya, rasa gatal dan sesak semakin  terakumulasi. Sesekali saya lepas kaos kaki terkutuk itu, dan saya bisa melihat ada “bekas cekikan” kaos kaki itu yang begitu sadis dan mengenaskan (pernyataan dilebih-lebihkan).  Hal itu menimbulkan kejengkelan, yang kemudian berganti menjadi amarah. Urgh! Sejak hari itu, saya berusaha sebisa saya untuk tidak memakai kaos kaki itu dan selalu memilih kaos kaki lain (yang meskipun compang-camping tetapi lebih melar dan nyaman), untuk pergi ke sekolah.

Tanpa terasa, sampai hari ini, sudah dua bulan kaos kaki itu saya tinggalkan dalam lemari. Dan tadi pagi saya baru menyadarinya setelah Mama menyuruh saya memakai kaos kaki itu. Saat saya melihatnya, saya teringat lagi rasa tidak nyaman dan kejengkelan yang benda itu timbulkan. Tetapi toh akhirnya saya putuskan untuk pakai juga hari ini.

Saya menemukan sebuah pesan tersendiri pada cerita kehidupan saya ini. Kaos kaki baru yang menjengkelkan itu saya bisa gambarkan sebagai hal-hal baru, perubahan-perubahan, masalah-masalah yang datang. Kaos kaki lama saya (detail mengenai bolong-bolong dan compang campingnya dilupakan saja), saya ibaratkan sebagai zona aman, zona nyaman, hal-hal lama, hal-hal yang saya sudah kenal dengan baik, masalah-masalah yang sudah saya kalahkan. Saya merasa sangat menderita karena kaos kaki baru itu, dan saya membencinya, serta menghindari menghadapi kaos kaki itu. Saya lebih suka terus bersama kaos kaki- kaos kaki lama yang sudah melar karena lebih nyaman, tanpa saya ingat bahwa kaos kaki-kaos kaki itupun dulu juga menyiksa saat masih baru.

Apa gunanya saya menghindari memakai kaos kaki baru itu?  Kaos kaki itu akan tetap ada di lemari dan saya pun harus memakainya juga suatu hari nanti. Justru dengan saya sering memakainya, kaos kaki itu akan bertambah melar dan kemudian menjadi nyaman.

Semoga anda mendapat maksud dari post membingungkan ini! Hehe…

Masihkah dalam revolusi?

Revolusi, revolusi…merubah sesuatu dengan cepat dan drastis, penggulingan pemerintah oleh yang diperintah…

Ada Revolusi Perancis, Revolusi Industri, Revolusi Hijau, perjuangan kemerdekaanpun adalah revolusi, termasuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dua orang Bapak Proklamator kita, Sang Dwitunggal, ternyata memiliki pendapat berbeda mengenai Revolusi Indonesia, perbedaan pendapat yang kemudian ikut andil memecah mereka.

Soekarno

Sang Panglima Besar Revolusi, Yang Mulia Presiden Republik Indonesia, Ir.Soekarno, berulangkali menegaskan bahwa revolusi Indonesia belum selesai. Revolusi akan tetap berjalan sampai kapanpun.

Bung Karno membagi revolusi dalam 3 tahap:

1. Tahun 1945-1955. Revolusi Fisik. Indonesia memasuki fase merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari kaum Imperialis dengan mengorbankan darah.

2. Tahun 1956-?. Revolusi Nasional. Fase dimana bangsa Indonesia membuang akar-akar kapitalisme dan sisa-sisa Imperialisme, juga membangun dan menggembleng pemerintahan baru, hukum baru, negara baru, untuk mencapai satu masyarakat yang adil dan makmur (tata-tentram-kerta-raharja). Fase ini adalah fase untuk mempersiapkan fase selanjutnya.

3. Tahun ?. Revolusi Sosial. Fase ini baru bisa dimasuki setelah fase sebelumnya dilewati, hal itu bisa berlangsung berpuluh-puluh tahun lamanya. Fase pergerakan untuk mengubah sifat masyarakat Indonesia menjadi sesuai dengan cita-cita kemerdekaan. Masyarakat yang setiap orangnya merdeka secara jiwani.

Bung Karno juga menegaskan bahwa dalam revolusi pastinya ada langkah-langkah yang harus diambil dengan mengesampingkan hukum demi kepentingan rakyat sendiri. Karenanya, revolusi tidak boleh dipimpin oleh ahli hukum yang mementingkan legalitas.

Hatta

Berbeda dengan Soekarno, Bung Hatta selalu mengatakan bahwa revolusi sudah selesai. Revolusi telah berakhir saat penyerahan kedaulatan dalam perundingan KMB. Bagi Hatta, revolusi adalah letupan masyarakat yang melakukan penjungkiran nilai-nilai dan harus berhenti setelah tujuannya tercapai.

Revolusi menggoncangkan lantai dan sendi, pasak dan tiang jadi longgar semuanya. Karena itu revolusi tidak boleh berjalan terlalu lama, hanya beberapa waktu dan kemudian harus dibendung. Sesudah itu datang masa konsolidasi untuk merealisasikan cita-cita revolusi.

Jadi, yang belum selesai bukanlah revolusi, tetapi usaha untuk mengisi kemerdekaan setelah revolusi. Bung Hatta berpendapat bahwa revolusi yang tidak dibendung tepat waktu menyebabkan anarkisme, pemberontakan, kudeta, dan kekacauan politik maupun ekonomi. Apabila revolusi tidak dibendung pada waktunya, pasak dan tiang yang longgar tadi berantakan dan meruntuhkan bangunan. Sementara itu pihak-pihak oportunis masuk dan mengambil keuntungan dari situ. Dan diantara merdeka dan anarki tidak jelas lagi bedanya.

Karena itu, Bung Hatta menegaskan bahwa “revolusi sudah selesai”. Sekarang saatnya kita mengisi kemerdekaan, revolusi sudah selesai.

Bung Hatta juga berpendapat bahwa hukum tidak boleh dilanggar. Contohnya pada saat Soekarno memutuskan untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di Indonesia tanpa mengganti rugi untuk membangun negara, Hatta tidak setuju. Hatta berpendapat bahwa Indonesia harus membayar ganti rugi, karena kita bukanlah bangsa perampok, tetapi bangsa yang merdeka.

-

Bagaimana menurut anda? Masihkah bangsa Indonesia berada dalam revolusi memperebutkan kemerdekaan? Atau revolusi sudah selesai dan kita sekarang sedang mengisi kemerdekaan?

You’ve got a friend in me

You’ve Got A Friend in Me

-by: Randy Newman & Lyle Lovett

ost. Toy Story

-

-

You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
When the road looks rough ahead
And you’re miles and miles
From your nice warm bed
Just remember what your old pal said
Boy, you’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
You’ve got troubles, well I’ve got ‘em too
There isn’t anything I wouldn’t do for you
We stick together and we see it through
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me

-

Some other folks might be
A little bit smarter than I am
Bigger and stronger too
Maybe
But none of them will ever love you the way I do
It’s me and you
And as the years go by
Boys, our friendship will never die
You’re gonna see
It’s our destiny
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me

-

Bacchikoi

Warning! Girls in bikini (or underwear) presented.

Is There Any Problem with Thought?

Well, my teacher, a man called HD, once ridiculed me with nickname “theoretical-man”. And some people actually laughed at that nickname.

I wonder what ridiculous from that word.

Is it a problem for people, that I make some set of theory as the base of my ideas? I used my thought to comprehend the world I’m living in and seeking knowledge to solve all those problems in my life.

“I think, therefore I exist”, René Descartes once said. It is only one simple sentence but yet so deep in meaning. That simple sentence is the foundation, a sole ground of further construction in a more complicated set of theories. Archimedes used to demand just one firm and immovable point in order to shift the entire earth; so if you manage to find just one thing, however slight, that is certain and unshakable, you can do what others can’t.

Many great actions and knowledge come from ideas. But probably my problem is that all ideas I have, stop there as ideas. And sometimes I have problem with putting my ideas across, leading to misunderstanding and confusion (even sometimes I confused myself). -_-” You don’t understand this post, do you?

Strategi Fabian

Istilah Strategi Fabian berasal dari nama Quintus Fabius Maximus Verrucosus. Satu hal yang unik dari strategi ini adalah strategi ini tidak pernah populer, bahkan dicela, saat strategi ini dijalankan, tetapi dipuji di kemudian hari.

Ceritanya seperti ini:

Suatu hari, pada masa lalu, negeri Romawi yang sedang melakukan ekspansi, terlibat perang melawan bangsa Chartago (apakah ini terjemahan yang benar dari Chartage?).

Kemudian…seorang jendral perang hebat Chartago bernama Hannibal menyerang Romawi…di tanah Romawi sendiri! Melalui pegunungan Alpen ia datang bersama pasukannya dan Italia diporakporandakan! Kemanapun ia pergi ia menang! Bersama pasukannya yang bisa dibilang cukup kecil, ia mengalahkan balatentara Romawi yang jumlahnya berkali-kali lipat lebih besar.

Romawi tenggelam dalam teror! Tanah airnya sendiri dimasuki oleh musuh yang tidak bisa diusir!

Kemudian muncullah seorang jendral bernama Fabius. Ia dipercaya untuk memimpin pasukan Romawi untuk mengalahkan Hannibal. Ia kemudian akan disebut Sang Penunda (The Delayer) bukan tanpa alasan.

Romawi telah mencoba menghajar pasukan Hannibal dalam perang-perang skala besar dan Romawi selalu kalah. Hannibal terlampau jenius untuk dikalahkan dalam pertarungan. Fabius mengakui hal itu dan belajar dari kesalahan Romawi. Satu-satunya cara untuk mengalahkan Hannibal adalah…dengan sama sekali tidak menghadapinya dalam peperangan.

Peperangan, atau pertempuran, adalah permainan yang akan selalu Hannibal menangkan. Jadi, mainkan permainan lain!

Fabius menerapkan strategi dimana pasukan Romawi diperintahkan untuk menghindari pasukan musuh sebisa mungkin. Hal ini membuat tidak akan ada pertempuran yang terjadi, Hannibal tidak kalah, tapi juga tidak akan menang. Sambil terus mengirimkan pasukan sejumlah kecil untuk menyerang kelompok pencari makanan Hannibal, pasukan Chartago dibuat kelaparan dan kerepotan. Strategi ini berjalan dengan baik, kekuatan Romawi perlahan-lahan pulih sementara musuhnya melemah.

Tapi strategi ini tidak disukai senat dan rakyat Romawi. Mereka memanggil Fabius pengecut dan mencopotnya dari jabatan. Kemudian dikumpulkanlah balatentara Romawi, 90.000 prajurit yang terdiri dari 8 legiun dan sekutu-sekutu, semuanya dipimpin oleh 2 konsul dan dikirim untuk mengusir Hannibal. Terjadilah pertempuran di Cannae melawan pasukan Chartago yang berjumlah 40.000 orang. Dan pasukan Romawi dihancurkan dengan memalukan.

Perlu kekalahan yang hebat dan memalukan untuk membuat Romawi mengerti bahwa hanya cara Fabius yang bisa digunakan untuk mengalahkan Hannibal. Fabius kemudian dikembalikan ke jabatannya. Orang yang dilecehkan itu sekarang dianggap sebijaksana dewa. Strategi itu terus dijalankan sampai akhirnya Hannibal dipaksa keluar dari Itali, dan kemudian kerajaan Chartago seluruhnya dibinasakan.

Strategi Fabian, strategi yang penuh kesabaran dan penantian, menggunakan waktu untuk membuat masalah memudar dan bahkan hilang sama sekali. Strategi yang terlihat lamban, malas, seperti pengecut, tetapi kemudian membawa kemenangan besar.

Apakah anda ingin mencoba juga Strategi Fabian untuk memecahkan masalah anda?